Tag Archives: psikologi

Selfie merupakan Gangguan Jiwa?

Is selfie a disorder

CC Image courtesy of Howard Ignatius on Flickr

Belakangan, kembali ramai lagi di timeline media sosial saya mengenai konfirmasi dari American Pyschiatric Association bahwa selfie atau memotret diri sendiri kini menjadi gangguan kejiwaan dengan nama gangguan “selfitis”. Hal ini tentu menghebohkan, mengingat banyak sekali teman-teman saya yang senang melakukan selfie dan di-upload ke media sosialnya, hehehe…

Sebenarnya informasi tersebut adalah berita lama, sudah ada sejak awal tahun 2014, namun mungkin baru ramai di timeline saya belakangan ini. Karena ternyata banyak friends saya di sosial media yang membagikan informasi “selfie adalah gangguan jiwa”, saya pun akhirnya berinisiatif untuk membuat tulisan ini.

Oke, kita masuk ke dalam pertanyaan utama kita: apakah benar, selfie kini dianggap sebagai gangguan kejiwaan?

Jawaban saya: berita tersebut adalah HOAX!

Bagaimana saya bisa berpendapat seperti itu? Baca lebih lanjut

5 Fakta Kuliah di Jurusan Psikologi

Pengalaman Psikologi

CC Image courtesy of Veritas on Flickr

Karena di postingan pengalaman kuliah psikologi banyak banget yang comment buat nanya-nanya gimana sih rasanya kuliah psikologi, maka di post ini gw mau kasih 5 fakta kuliah psikologi yang perlu kamu ketahui.  Cekidot guys!

Disclaimer: 5 fakta ini menurut gue sendiri, sebagai mahasiswa yang akhirnya “lolos” S1 psikologi juga :P

1. Mau kabur dari hitung-hitungan? No way out!

Kalau ada yang mau pilih jurusan psikologi biar gak ketemu hitung-hitungan lagi, you are totally wrong, fellas! Karena pada faktanya… jurusan psikologi ternyata masih berkaitan dengan hitung-hitungan, dan memang perlu! Saat kuliah psikologi nanti, kalian akan bertemu dengan beberapa mata kuliah hitung-hitungan seperti Statistik I, Statistik II, dan Psikometrika (coba tanya sama yang sudah pernah kul psikologi, gimana sadisnya mata kuliah psikometrika itu :P) Baca lebih lanjut

Kepribadian Berdasarkan Golongan Darah, Hoax atau Ilmiah?

Gambar

Tulisan ini bermula dari sebuah artikel yang saya temukan di wikipedia, dengan judul “Blood Types in Japanese Culture”.

Selama ini kita memercayai bahwa golongan darah tertentu memengaruhi kepribadian seseorang. Tipe A diyakini sebagai pemilik kepribadian yang sangat hati-hati dan perfeksionis, tipe B diyakini sebagai seorang yang konyol dan cuek, tipe AB disebut-sebut sebagai si rasional yang tenang, dan tipe O adalah sosok yang sangat optimis dan pekerja keras.

Kepribadian berdasarkan golongan darah tersebut menjadi sangat populer pada saat ini. Di internet banyak komik yang menceritakan interaksi antara keempat golongan darah tersebut. Di Jepang dan Korea, ramalan berdasarkan jenis kelamin justru mengisi tayangan televisi pagi hari. Bahkan sampai ada layanan pencari jodoh yang berdasarkan golongan darah, atau pencari kerja dengan karyawan bergolongan darah tertentu.

Lalu, mengapa bisa disebut (atau dicurigai) sebagai HOAX? Karena tidak ada dasar atau bukti ilmiah yang dapat membuktikan hal tersebut! Baca lebih lanjut

Pengalaman Selama Kuliah S1 Psikologi

Pengalaman kuiah psikologi

Gambar di bawah creative common license (sumber)

Seorang teman menanyakan alasan mengapa saya tidak lagi meng-update tulisan di dalam blog saya. Awalnya, saya kira blog saya selama ini sepi-sepi saja, jadi saya menulis hanya kalau mood. Kebetulan selama tahun 2013 ini, saya belum mood untuk menulis di blog ini, saya justru membatin, “Gimana mau nulis di blog, wong kemarin skripsi aja gue ogah-ogahan nulisnya.” Pertanyaan teman saya ternyata justru membuat saya terpicu untuk menulis lagi, pertama karena saya juga sudah kangen menulis, kedua karena ternyata ada yang baca blog ini juga sampai tahu bahwa saya sudah tidak meng-update isi blog ini lagi. Oke, malam ini gue akan nulis.

Bulan Juli kemarin menjadi bulan yang sangat bersejarah bagi saya, tidak lain dan tidak bukan karena pada bulan Juli kemarin, saya menuntaskan pendidikan S1 saya. Skripsi saya yang berjudul “Peran Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional terhadap Keterikatan Kerja” dianggap layak untuk meluluskan saya sebagai sarjana psikologi.

Hari Selasa lalu, para mahasiswa yang sudah lulus dari ujian skripsi pun dikumpulkan dalam sebuah acara yang dinamai judicium. Dalam acara judicium tersebut, nama kami akan dipanggil satu per satu dan diberikan tanda bahwa kami sudah dapat disebut sebagai lulusan pendidikan S1 piskologi dalam bentuk sertifikat. Acara ini dilakukan sebelum wisuda yang akan kami hadiri di bulan Oktober nanti. Baca lebih lanjut

Galau dan Psikologi

Kata “galau” sering sekali muncul di situs jejaring sosial, biasanya sering kita lihat di malam hari dan umumnya lebih sering digunakan untuk hal yang berhubungan dengan perasaan atau cinta. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), galau atau bergalau adalah “sibuk beramai-ramai, ramai sekali, kacau tidak keruan (pikiran).” Galau berarti keadaan yang sangat sibuk atau ramai sehingga membuat pikiran menjadi kacau tidak keruan. Sedangkan selama ini, kata “galau” sering digunakan untuk menjelaskan keadaan diri yang sedang sedih, sedang labil, atau sedang penuh pikiran. Biasanya diekspresikan dengan mengeluh atau bingung. Baca lebih lanjut

Ketentuan Baru untuk Guru BK: Wajib Konselor!

guru bk wajib konselor

Gambar di bawah creative commons license (sumber)

Subuh tadi saat saya membuka akun facebook saya, terlihat status dari Himpsi (Himpunan Psikologi Indonesia) DKI Jakarta yang berisi:

Agar tidak melawan hukum, Sekolah-sekolah yang membuka lowongan / penerimaan Guru Bimbingan / Guru Bimbingan dan Konseling hendaknya semaksimal mungkin berupaya mematuhi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2008 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Konselor. Baca lebih lanjut