Category Archives: Psychology

S1 Psikologi Bisa Kerja Apa Sih?

Karir Sarjana Psikologi

Halo pembaca, akhirnya setelah bergulat dengan kesibukan sehari-hari, saya meluangkan waktu untuk menulis kembali. Motivasi terbesar saya, tentu karena blog ini makin hari makin ramai, banyak pembaca yang meninggalkan komentar, me-follow akun medsos saya, atau hanya sekadar mengunjungi dan membaca tulisan-tulisan sehingga mendongkrak jumlah pengunjung harian.

Setelah tulisan Pengalaman Kuliah S1 Psikologi dan Fakta Kuliah Psikologi yang ramai dikunjungi, saya sekarang akan share pengalaman saya (beserta teman-teman saya) setelah lulus S1 Psikologi 2 tahun silam. Bagi teman-teman yang sekarang sedang SMA atau mungkin berada pada tahun terakhir di kuliah psikologi, mungkin sedang berpikir, bisa kerja apa sih dengan ijazah S1 psikologi? Dulu saya juga berpikir begitu :) Nah dalam tulisan ini, saya akan bagikan beberapa posisi pekerjaan yang bisa dilamar oleh seorang S.Psi (sarjana psikologi). Baca lebih lanjut

Selfie merupakan Gangguan Jiwa?

Is selfie a disorder

CC Image courtesy of Howard Ignatius on Flickr

Belakangan, kembali ramai lagi di timeline media sosial saya mengenai konfirmasi dari American Pyschiatric Association bahwa selfie atau memotret diri sendiri kini menjadi gangguan kejiwaan dengan nama gangguan “selfitis”. Hal ini tentu menghebohkan, mengingat banyak sekali teman-teman saya yang senang melakukan selfie dan di-upload ke media sosialnya, hehehe…

Sebenarnya informasi tersebut adalah berita lama, sudah ada sejak awal tahun 2014, namun mungkin baru ramai di timeline saya belakangan ini. Karena ternyata banyak friends saya di sosial media yang membagikan informasi “selfie adalah gangguan jiwa”, saya pun akhirnya berinisiatif untuk membuat tulisan ini.

Oke, kita masuk ke dalam pertanyaan utama kita: apakah benar, selfie kini dianggap sebagai gangguan kejiwaan?

Jawaban saya: berita tersebut adalah HOAX!

Bagaimana saya bisa berpendapat seperti itu? Baca lebih lanjut

5 Fakta Kuliah di Jurusan Psikologi

Pengalaman Psikologi

CC Image courtesy of Veritas on Flickr

Karena di postingan pengalaman kuliah psikologi banyak banget yang comment buat nanya-nanya gimana sih rasanya kuliah psikologi, maka di post ini gw mau kasih 5 fakta kuliah psikologi yang perlu kamu ketahui.  Cekidot guys!

Disclaimer: 5 fakta ini menurut gue sendiri, sebagai mahasiswa yang akhirnya “lolos” S1 psikologi juga :P

1. Mau kabur dari hitung-hitungan? No way out!

Kalau ada yang mau pilih jurusan psikologi biar gak ketemu hitung-hitungan lagi, you are totally wrong, fellas! Karena pada faktanya… jurusan psikologi ternyata masih berkaitan dengan hitung-hitungan, dan memang perlu! Saat kuliah psikologi nanti, kalian akan bertemu dengan beberapa mata kuliah hitung-hitungan seperti Statistik I, Statistik II, dan Psikometrika (coba tanya sama yang sudah pernah kul psikologi, gimana sadisnya mata kuliah psikometrika itu :P) Baca lebih lanjut

Aduh, Buat Apa Sih Belajar Matematika?

OK, apakah ada di antara kamu yang tidak pernah mengatakan hal di atas di dalam hati? Tunjuk tangan saja deh, pasti kamu pernah memikirkan hal tersebut, saya juga kok :P. Meski saya sudah lulus SMA bertahun-tahun yang lalu, tapi saya masih ingat betapa bete-nya ketika harus memulai mata pelajaran matematika. Di antara kamu pasti pernah berpikir:

Buat apa sih belajar sudut-sudut, logaritma, dan teman-temannya yang menyebalkan itu? Yang penting kan bisa hitung uang!

rumus matematika

Rumus-rumus matematika yang pernah membuat kita frustrasi. Gambar via http://soulrebel83.deviantart.com/

Baca lebih lanjut

Mengapa Si “Malas” Mendapat Nilai Bagus?

sumber gambar: http://mybrainnotes.com/triune-brain-theory.jpg

Saat saya masih kuliah S1, banyak sekali teman saya yang mengeluhkan hal tersebut. Mereka merasa sudah belajar dengan baik. Buku teks maupun catatan sudah dibaca dengan baik, jam belajar pun sudah diperbanyak (bahkan sampai bergadang), sampai sudah diulangi berkali-kali; tapi tetap saja, nilai yang diperoleh masih pas-pasan.

Di sisi lain, ada murid yang sepertinya tidak terlalu menghiraukan ujian. Di kelas ia mendengarkan penjelasan seperti biasa, catatannya juga tidak lengkap; bahkan lebih sering ia memfotokopi dari temannya, atau mungkin anda yang catatannya lengkap. Di rumah, jadwal belajarnya tidak tentu. Ia belajar mengikuti suasana hatinya saja. Jika sedang ingin belajar, ya belajar; jika sedang ingin bermain, ya main. Terkadang bahkan tidak belajar sama sekali. Tapi hasil ujiannya? Seringkali melebihi nilai siswa-siswa lainnya. Biasanya si “malas” ini adalah siswa laki-laki dan suka bermain game, tapi pernah juga saya siswa tipe ini temui dari perempuan.

Si “malas” ini pun menjadi tanda tanya besar bagi teman-temannya. Belajar jarang, selalu santai, tapi nilainya lebih bagus daripada si X yang belajar gila-gilaan. Mungkin anda salah satunya, sudah belajar dengan sekeras mungkin tapi tetap mendapatkan nilai yang lebih rendah daripada si “malas”; atau mungkin anda adalah si “malas” ini? Baca lebih lanjut

Kepribadian Berdasarkan Golongan Darah, Hoax atau Ilmiah?

Gambar

Tulisan ini bermula dari sebuah artikel yang saya temukan di wikipedia, dengan judul “Blood Types in Japanese Culture”.

Selama ini kita memercayai bahwa golongan darah tertentu memengaruhi kepribadian seseorang. Tipe A diyakini sebagai pemilik kepribadian yang sangat hati-hati dan perfeksionis, tipe B diyakini sebagai seorang yang konyol dan cuek, tipe AB disebut-sebut sebagai si rasional yang tenang, dan tipe O adalah sosok yang sangat optimis dan pekerja keras.

Kepribadian berdasarkan golongan darah tersebut menjadi sangat populer pada saat ini. Di internet banyak komik yang menceritakan interaksi antara keempat golongan darah tersebut. Di Jepang dan Korea, ramalan berdasarkan jenis kelamin justru mengisi tayangan televisi pagi hari. Bahkan sampai ada layanan pencari jodoh yang berdasarkan golongan darah, atau pencari kerja dengan karyawan bergolongan darah tertentu.

Lalu, mengapa bisa disebut (atau dicurigai) sebagai HOAX? Karena tidak ada dasar atau bukti ilmiah yang dapat membuktikan hal tersebut! Baca lebih lanjut