Category Archives: Chinese Culture

Malam Imlek di Petak Sembilan

Camera 360

Harum bunga sedap malam memenuhi ruang-ruang di rongga hidung ketika berjalan di sepanjang Jl. Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Waktu menunjukkan pukul 20.00, pada tanggal 30 Januari, tepat malam sebelum Imlek. Di Petak Sembilan para pedagang manisan dan angpau mulai beristirahat dan membereskan lapak-lapaknya. Jalanan di sana sudah sepi, tapi jika kita berjalan sekitar 1 kilometer menelusuri Petak Sembilan tersebut, kita akan menemukan keramaian dari Kelenteng Jin De Yuan atau Vihara Dharma Bakti.

Jin De Yuan (baca: Cin Te Yuen, dalam lafal Hokkian disebut sebagai Kim Tek Ie), sejatinya bukanlah sebuah vihara. Saya lebih setuju menyebutnya sebagai kelenteng, karena vihara merupakan tempat kebaktian umat Buddha, sedangkan kelenteng merupakan gedung budaya dan ibadah dari umat kepercayaan rakyat Tionghoa. Agama Buddha bukan milik orang Tionghoa saja, bisa saja menjadi milik orang Jawa (saya kaget ketika guru saya mengatakan banyak sekali umat Buddha adalah orang Jawa), orang India, atau suku lainnya. Sedangkan orang Tionghoa, ya hanya untuk suku Tionghoa saja. Di dalam kelenteng terdapat berbagai dewa-dewa pemujaan orang Tionghoa. Buddha merupakan salah satunya, di samping dewa-dewa dari agama Taoisme dan juga Konghucu. Di Indonesia, agama rakyat Tionghoa ini lebih dikenal dengan nama agama Konghucu. Baca lebih lanjut

Kisah di Balik Kue Keranjang

Menjelang hari raya Imlek, salah satu makanan yang wajib disiapkan adalah kue keranjang (beberapa orang menyebutnya dengan dodol China). Mungkin anda sudah familiar dengan kue ini. Bentuknya bundar (walaupun mungkin juga ada bentuk-bentuk lainnya), warnanya hitam kecoklatan, teksturnya empuk dan lengket. Kalau anda coba, rasanya manis sekali dan lengket di mulut, bahkan sering menempel di gigi. Biasanya dipotong dan dimakan langsung begitu saja, terkadang ada juga yang dimakan bersama dengan parutan kelapa untuk memperkaya rasa. Cara lain untuk menyantapnya adalah dengan mendiamkannya berbulan-bulan hingga sedikit mengeras, kemudian dibalur dengan campuran tepung dan telur lalu digoreng di dalam minyak panas. Dihidangkan panas-panas dan garing, rasanya tentu akan membuat air liur menetes.

Bagi orang Tionghoa, kue keranjang wajib ada saat Imlek. Kue keranjang dalam Bahasa Mandarin disebut sebagai nian gao (年糕, baca: nien kao) dan dalam Bahasa Hokkian disebut dengan ti kwe (甜棵, baca: ti ke dengan e seperti apel, secara literal berarti: kue yang manis). Nian berarti tahun, sedangkan gao berarti kue, sehingga secara literal nian gao bisa berarti kue tahun. Kata gao juga memiliki arti lain, yaitu tinggi; sehingga bisa juga berarti harapan bahwa tahun ini membawa rezeki yang lebih tinggi. Memang, biasanya kue keranjang disusun bertingkat ke atas, melambangkan rezeki yang terus meningkat. Baca lebih lanjut

Mengenal Perayaan Kue Bulan dan Festival Musim Gugur

Kue bulan.

Festival musim gugur akan segera tiba. Kue bulan mulai menjadi cemilan yang wajar ditemui di rumah-rumah warga keturunan Tionghoa. Di pasar sendiri, permintaan kue bulan juga meningkat. Mungkin anda sudah mencicipinya juga di rumah, ditemani dengan secangkir teh China yang hangat dan menetralkan lemak.

Dalam Bahasa Mandarin, festival musim gugur disebut sebagai 中秋节 (zhong qiu jie, baca: chung ciu cie), dalam Bahasa Hokkian disebut sebagai tiong ciu. Festival ini dirayakan pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan lunar, dengan berkumpulnya keluarga dalam sebuah meja sambil menikmati kue bulan (月餅 yuè bĭng, baca: yue ping). Di bawah sinar terang rembulan, anggota keluarga yang berkumpul saling berbincang dan bercengkerama. Mereka yang merantau dan terpisah jauh dari keluarga besarnya, akan kembali pada perayaan ini untuk menikmati suasana keakraban keluarga. Di beberapa daerah di daratan China, para pemuda dan pemudi berkumpul di bawah sinar terang rembulan untuk saling bercengkerama sambil bernyanyi dan menari. Dipercaya bahwa hal ini dapat menyebabkan mereka enteng jodoh. Di China sendiri, festival musim gugur menjadi perayaan paling meriah setelah Imlek.

Asal Usul Festival Musim Gugur

Festival musim gugur diperkirakan bermulai pada sekitar dinasti Xia dan Shang (2000-1600 SM). Perayaan bermula dari pemujaan terhadap bulan, hingga pada dinasti Song (1127 – 1279 M) orang-orang mulai mengirimkan kue bulan kepada kenalan mereka sebagai simbol keutuhan keluarga. Baca lebih lanjut