Category Archives: Catharsis

Seandainya Agama bukan Pembeda…

Gw aktif dalam organisasi agama selama hampir 10 tahun. Sama seperti aktivis agama pada umumnya, seringkali gw dicekokin oleh “oknum-oknum” yang berusaha mendoktrin gw untuk fanatik terhadap agama gw dan menganggap agama gw lah yang satu-satunya benar.

Kenapa gw bilang oknum? Karena gw sadar, agama seharusnya bukan sarana untuk mengagung-agungkan kelompoknya sendiri, lalu menganggap kelompok (baca: agama) lain buruk atau lebih rendah. Apalagi, dalam kitab suci agama gw, dikatakan bahwa seseorang adalah orang baik bukan karena agamanya, melainkan kualitas batinnya. Kualitas batin maksudnya adalah kebajikan dan kebijaksanaan dari orang tersebut. Gw yakin, kita sama-sama setuju di poin ini. Kita menilai seseorang baik bukan karena agamanya, tapi karena tingkah lakunya. Alm. Gus Dur sendiri juga pernah berkata, kalau kita berbuat baik, orang tidak akan menanyakan agama kita. Setuju?

Gus Dur Quotes

Well… selama hampir 10 tahun aktif dalam organisasi agama, saat ini gw berada pada kondisi di mana gw mulai berpikir, “sebenarnya apa sih tujuan dari gw sedemikian aktifnya dalam agama?” Gw berpikir bahwa gw harus mulai melayani lingkungan lebih luas lagi, bukan hanya dalam organisasi agama, namun juga lebih luas lagi… tanpa melihat perbedaan agama, suku bangsa, dan lain-lain. Baca lebih lanjut

Do You Love Yourself… Unconditionally?

Carl Rogers Quotes

Suatu hari, saya ditanya, seperti apakah sosok manusia ideal menurut saya?

Saya berpikir cukup lama untuk itu, tetapi akhirnya saya dengan yakin menjawab: manusia yang mampu menerima dan mencintai dirinya apa adanya.

Manusia senantiasa memakai topeng dalam kehidupannya sehari-hari untuk ditampilkan dalam lingkungan. Kita merasa seolah diri kita tidak berharga dan sebisa mungkin membuat diri kita sesuai dengan keinginan orang lain, sehingga kita hanya seperti bersandiwara terhadap diri sendiri. Ketika lingkungan mulai tidak sesuai dengan harapan kita, baru kita terheran-heran: mengapa tidak ada orang yang mencintai saya? Baca lebih lanjut

Aduh, Buat Apa Sih Belajar Matematika?

OK, apakah ada di antara kamu yang tidak pernah mengatakan hal di atas di dalam hati? Tunjuk tangan saja deh, pasti kamu pernah memikirkan hal tersebut, saya juga kok :P. Meski saya sudah lulus SMA bertahun-tahun yang lalu, tapi saya masih ingat betapa bete-nya ketika harus memulai mata pelajaran matematika. Di antara kamu pasti pernah berpikir:

Buat apa sih belajar sudut-sudut, logaritma, dan teman-temannya yang menyebalkan itu? Yang penting kan bisa hitung uang!

rumus matematika

Rumus-rumus matematika yang pernah membuat kita frustrasi. Gambar via http://soulrebel83.deviantart.com/

Baca lebih lanjut

Selamat Tahun Baru 2015!

Ah, post kali ini terlambat sekali!

Mohon maaf karena sudah tanggal 12 Januari, saya justru baru membuat tulisan saya tentang tahun baru.

Ngomong-ngomong, bagaimana malam tahun baruan kalian?

Seperti biasa, tahun baru selalu diselingi dengan semangat dan harapan baru. Pada tahun ini juga, saya berharap dapat menemukan banyak hal-hal dan pengalaman baru. Biasanya sih, orang-orang mulai menulis resolusi tahun baru, yang biasanya tidak akan bertahan hingga 1 bulan kemudian.

Makanya, kalau bikin resolusi yang realistis dan “SMART” dong, jadi mudah dilaksanakan. Baca lebih lanjut

Dilema Mahasiswa Organisasi vs Akademis

mahasiswa akademis dan organisasi

Gambar di bawah creative commons license (sumber)

Tahun ajaran baru untuk perguruan tinggi mulai dibuka. Beberapa perguruan tinggi mulai mengadakan masa orientasi untuk mahasiswa baru. Kampus almamater saya sendiri sudah selesai melaksanakan masa orientasi mahasiswa baru hari Jumat ini. Hal ini mengingatkan saya pada masa-masa memulai kuliah dulu. Dengan semangat juang 45, dulu saya bermimpi untuk bisa menjadi mahasiswa yang sukses. Sukses dalam arti berprestasi secara akademis dan organisasi.

Salah satu isu kemahasiswaan yang saya amati tidak pernah berubah adalah mengenai mahasiswa akademis dan mahasiswa organisasi. Mahasiswa akademis yang biasa dijuluki kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) dicap sebagai mahasiswa yang kurang pergaulan, tertutup, dan tidak punya masa koneksi. Mahasiswa organisasi sendiri, di sisi lain, seringkali dicap sebagai mahasiswa tidak bermasa depan, tidak suka belajar, numpang eksis, dan sebagainya. Mahasiswa yang fokus pada kegiatan akademisnya mengatakan bahwa mahasiswa akademislah yang benar karena sesuai dengan tugas mahasiswa yaitu belajar, sedangkan ada juga mahasiswa aktif berorganisasi yang berpendapat bahwa mahasiswa organisasilah yang lebih tepat karena selain belajar teori mereka juga belajar bersosialisasi, manakah yang tepat?

Tulisan saya kali ini akan membahas mengenai perdebatan antara kedua tipe mahasiswa tersebut dan stereotype pada keduanya. Sebenarnya, baik mahasiswa fokus akademis dan fokus organisasi menurut saya sah-sah saja, asalkan dengan catatan khusus. Apa saja mitos (baca: stereotype) dan fakta mengenai kedua tipe mahasiswa tersebut? Baca lebih lanjut

Pengalaman Selama Kuliah S1 Psikologi

Pengalaman kuiah psikologi

Gambar di bawah creative common license (sumber)

Seorang teman menanyakan alasan mengapa saya tidak lagi meng-update tulisan di dalam blog saya. Awalnya, saya kira blog saya selama ini sepi-sepi saja, jadi saya menulis hanya kalau mood. Kebetulan selama tahun 2013 ini, saya belum mood untuk menulis di blog ini, saya justru membatin, “Gimana mau nulis di blog, wong kemarin skripsi aja gue ogah-ogahan nulisnya.” Pertanyaan teman saya ternyata justru membuat saya terpicu untuk menulis lagi, pertama karena saya juga sudah kangen menulis, kedua karena ternyata ada yang baca blog ini juga sampai tahu bahwa saya sudah tidak meng-update isi blog ini lagi. Oke, malam ini gue akan nulis.

Bulan Juli kemarin menjadi bulan yang sangat bersejarah bagi saya, tidak lain dan tidak bukan karena pada bulan Juli kemarin, saya menuntaskan pendidikan S1 saya. Skripsi saya yang berjudul “Peran Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional terhadap Keterikatan Kerja” dianggap layak untuk meluluskan saya sebagai sarjana psikologi.

Hari Selasa lalu, para mahasiswa yang sudah lulus dari ujian skripsi pun dikumpulkan dalam sebuah acara yang dinamai judicium. Dalam acara judicium tersebut, nama kami akan dipanggil satu per satu dan diberikan tanda bahwa kami sudah dapat disebut sebagai lulusan pendidikan S1 piskologi dalam bentuk sertifikat. Acara ini dilakukan sebelum wisuda yang akan kami hadiri di bulan Oktober nanti. Baca lebih lanjut