Seandainya Agama bukan Pembeda…

Gw aktif dalam organisasi agama selama hampir 10 tahun. Sama seperti aktivis agama pada umumnya, seringkali gw dicekokin oleh “oknum-oknum” yang berusaha mendoktrin gw untuk fanatik terhadap agama gw dan menganggap agama gw lah yang satu-satunya benar.

Kenapa gw bilang oknum? Karena gw sadar, agama seharusnya bukan sarana untuk mengagung-agungkan kelompoknya sendiri, lalu menganggap kelompok (baca: agama) lain buruk atau lebih rendah. Apalagi, dalam kitab suci agama gw, dikatakan bahwa seseorang adalah orang baik bukan karena agamanya, melainkan kualitas batinnya. Kualitas batin maksudnya adalah kebajikan dan kebijaksanaan dari orang tersebut. Gw yakin, kita sama-sama setuju di poin ini. Kita menilai seseorang baik bukan karena agamanya, tapi karena tingkah lakunya. Alm. Gus Dur sendiri juga pernah berkata, kalau kita berbuat baik, orang tidak akan menanyakan agama kita. Setuju?

Gus Dur Quotes

Well… selama hampir 10 tahun aktif dalam organisasi agama, saat ini gw berada pada kondisi di mana gw mulai berpikir, “sebenarnya apa sih tujuan dari gw sedemikian aktifnya dalam agama?” Gw berpikir bahwa gw harus mulai melayani lingkungan lebih luas lagi, bukan hanya dalam organisasi agama, namun juga lebih luas lagi… tanpa melihat perbedaan agama, suku bangsa, dan lain-lain.

Eh iya, ungkapan di bawah ini cukup menyentil hati gw…

Ego Traps(moga-moga gw gak terjebak dalam ego traps…)

Jika gw masih berpikir bahwa agama gw adalah agama yang terbaik, dan agama lain lebih rendah… arogan sekali…

Namun mengapa masih banyak orang yang merasa agamanya terbaik, dan agama orang lain lebih rendah?

Gw gak akan menjawab pertanyaan gw tersebut (tar jadi gw yang nanya, gw yang jawab). Tapi menurut gw, agama kini seolah menjadi kotak pembatas antar manusia. Orang terkadang memedulikan agama. Gw beberapa kali menemui orang yang lebih dermawan hanya kepada yang agamanya sama. Ya, beberapa orang saja sih, sehingga belum bisa digeneralisasi. Tapi buktinya, ada toh, orang kayak gitu?

Btw… kalau masih mikir kata “agama” itu berasal dari kata “a” dan “gama” yang artinya “tidak kacau”, kudu baca artikel ini dulu deh.

Setiap orang menganggap agamanya terbaik, nomor 1, paling relevan dengan kehidupan; sedangkan agama lain, nomor 2. Mirip penjual kecap, ya? Kalau semuanya mengaku sebagai nomor 1, siapa yang jadi nomor 2-nya?

Terkadang tanpa kita sadari… beragama membuat kita menjadi sombong (secara terselubung)…

Dan karena agama, banyak perpecahan dan pertumpahan darah terjadi. Karena masing-masing golongan merasa bahwa ajaran agamanya harus diterapkan secara universal… makanya ribut.

Dalai Lama Quote

Jadi, untuk apa beragama?

Saat ini gw menganggap agama bukan lagi sebuah harga mati. Bukan karena sesuatu tidak sesuai ajaran agama gw, lalu gw layak menilai hal lain lebih buruk atau lebih rendah. Bukan karena si Anu (kenapa harus paka nama Anu?) tidak mengikuti ajaran agama gw, lantas gw layak menilai si Anu lebih rendah dan tidak bijak.

Gw menganggap agama adalah pedoman hidup, atau lifestyle (gaya hidup). Maksudnya? Gw menjadikan agama sebagai standar gw berperilaku. Bagaimana gw mengatasi amarah, bagaimana gw harus menghadapi duka lara kehidupan, bagaimana gw harus mensyukuri suka nikmat hidup, gw akan merujuk kepada kitab agama gw. Agama hanya untuk gw, bukan untuk orang lain. Kalau orang lain merujuk pada kitab atau ajaran yang beda, ya itu lifestyle dia. Apakah salah? Gak. Ibarat musik, gw suka musik soul, dia suka musik rock.

Agama untuk mengatur perilaku dan batin kita, bukan orang lain.

Namun menurut gw, yang terpenting bukanlah agama, melainkan kemanusiaan.

Gw akan menerapkan nilai-nilai agama ke diri gw sendiri, tetapi ketika bertemu dengan orang lain, gw akan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan.

Gitu aja deh, ya?

gus dur quotes 2

2 responses to “Seandainya Agama bukan Pembeda…

  1. kalo gavin suka baca novel, cek “waktu pesta bersama cinta” disana ada salah satu petikan yg intinya nggak jauh beda dari tulisan gavin. “agama bukanlah pembatas, melainkan cara kita untuk berinteraksi dengan tuhan” it mean’s no discrimination in our religion. menurut q agama sebagai “kaca mata” bukan sebagai “dinding” pembatas. sama seperti kalimat di agama gavin “sabbe satta bavanthu sukitata – semoga semua makhluk berbahagia” agama ditujukan untuk perdamaian bukan permusuhan dan kita memiliki “faith” masing tentang perdamaian itu sendiri

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s