Do You Love Yourself… Unconditionally?

Carl Rogers Quotes

Suatu hari, saya ditanya, seperti apakah sosok manusia ideal menurut saya?

Saya berpikir cukup lama untuk itu, tetapi akhirnya saya dengan yakin menjawab: manusia yang mampu menerima dan mencintai dirinya apa adanya.

Manusia senantiasa memakai topeng dalam kehidupannya sehari-hari untuk ditampilkan dalam lingkungan. Kita merasa seolah diri kita tidak berharga dan sebisa mungkin membuat diri kita sesuai dengan keinginan orang lain, sehingga kita hanya seperti bersandiwara terhadap diri sendiri. Ketika lingkungan mulai tidak sesuai dengan harapan kita, baru kita terheran-heran: mengapa tidak ada orang yang mencintai saya?

Pertanyaan dari saya, bagaimana orang lain bisa mencintai kita jika diri kita sendiri saja tidak mencintai diri kita apa adanya?

Mungkin inilah yang terpikirkan oleh Carl Ransom Rogers puluhan tahun yang lalu ketika ia mulai mempostulasikan client-centered therapy yang kini menjadi salah satu teknik psikoterapi yang populer. Bagaimana mungkin seseorang dapat memiliki kepribadian yang sehat jika ia tidak mampu menerima diri sendiri apa adanya?

Karena sejak kecil sudah diajarkan memiliki cita-cita setinggi langit, kita menjadi terbiasa untuk memiliki sejuta harapan. Sebenarnya ajaran tersebut tidak salah… tetapi tidak diimbangi dengan ajaran untuk tetap mampu menerima diri apa adanya jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Karena, mana mungkin ada manusia yang mampu 100% memenuhi segala harapannya? Kita belum disiapkan untuk menerima kesenjangan yang besar antara harapan dan kenyataan.

Ketika kesenjangan antara kenyataan dan harapan terjadi, banyak dari kita yang mengalami kekecewaan (hal ini wajar!) dan merasa menderita. Sekali lagi, kita diajarkan untuk memiliki harapan tinggi tetapi tidak diajarkan untuk menerima diri apa adanya. Seringkali saya menemui orang-orang yang terganggu baik secara perilaku bahkan kejiwaan karena besarnya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, dan ia tidak mampu mengatasi kesenjangan tersebut. Ia tidak mampu menerima kenyataan bahwa harapan yang sedemikian indah ternyata tidak dapat terpenuhi. Terlebih jika harapan-harapan tersebut bukanlah berasal dari dirinya sendiri, tetapi tuntutan dari keluarga, lingkungan, atau teman-teman. Ia mulai berpikir, “Saya takut tidak dicintai lagi karena saya tidak dapat memuaskan orang-orang di sekitar saya!”

Kita bukanlah alat pemuas.

Bukankah jauh di dalam hati kita, ada keinginan untuk diterima dan dicintai apa adanya oleh lingkungan?

Namun mengapa kita selalu bertindak untuk memuaskan lingkungan?

Bagaimana jika kita ternyata tidak mampu memuaskan mereka lagi?

Bagaimana mungkin orang lain akan menerima dan mencintai diri kita, jika kita tidak mampu untuk menerima dan mencintai diri kita apa adanya?

Kita sudah berhasil untuk menyusun cita-cita setinggi langit.

Tetapi kita lupa untuk mencintai diri kita apa adanya, terlebih dahulu.

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s