Aduh, Buat Apa Sih Belajar Matematika?

OK, apakah ada di antara kamu yang tidak pernah mengatakan hal di atas di dalam hati? Tunjuk tangan saja deh, pasti kamu pernah memikirkan hal tersebut, saya juga kok :P. Meski saya sudah lulus SMA bertahun-tahun yang lalu, tapi saya masih ingat betapa bete-nya ketika harus memulai mata pelajaran matematika. Di antara kamu pasti pernah berpikir:

Buat apa sih belajar sudut-sudut, logaritma, dan teman-temannya yang menyebalkan itu? Yang penting kan bisa hitung uang!

rumus matematika

Rumus-rumus matematika yang pernah membuat kita frustrasi. Gambar via http://soulrebel83.deviantart.com/

Kamu pusing karena harus memikirkan nilai dari tan 37,5 derajat? Bingung dan putus asa menghitung nilai sin2x + tan(x2+53)3? Padahal, buat apa sih menghitung sampai segitunya? Bukankah yang penting dalam hidup ini adalah mampu menghitung uang dan bunga bank?

Zaman sekarang kan sudah ada kalkulator, ngapain sih harus hitung manual?

Gondok karena harus hitung operasi matematika yang panjangnya seamit-amit? Padahal sih, kalau pakai kalkulator atau program komputer, hitungan tersebut selesai dalam hitungan detik saja. Aduh, gurunya tidak mengizinkan menggunakan kalkulator pula, harus hitung manual! Dasar tidak tahu cara memanfaatkan teknologi. Ribet banget, sih!

Walaupun caranya sudah benar, salah hitung sedikit, eh langsung disalahin. Gak toleran!

ujian sadis

Pengalaman pribadi penulis.

Saya masih ingat harus remedial hanya untuk ulangan bangun datar karena salah menghitung angka saja, padahal caranya sudah benar. Kenapa sih harus segitunya? Kan yang penting saya sudah mengerti caranya, kalau hitungannya sedikit salah, manusia tidak ada yang sempurna kan? Lagian, nanti saya kerja juga hitungnya pakai kalkulator yang pasti akurat, bukan manual! Rese!

Latihan di kelas gampang, PR gampang, ujiannya kok susah banget! Ampun deh!

Latihan:

hitunglah nilai dari log 21!

PR:

hitunglah nilai dari log 21 + log 35 – log 81!

Ulangan:

hitunglah nilai dari log(312-81/27)x, dimana x adalah bilangan real!

Mampus deh gue, PR sama ulangan beda banget! Yang juara kelas saja cuma dapat nilai 75. Ini guru memang niatnya ingin menghancurkan nilai sekelas saja!

Tapi setelah lulus, saya baru sadar bahwa matematika (beserta gurunya yang sering dianggap killer) memberikan saya banyak manfaat yang tidak pernah terpikirkan:

Kehidupan memang tidak membutuhkan kemampuan menghitung logaritma yang beribet, limit fungsi yang gak jelas, atau sudut-sudut cosinus yang kayaknya tidak mungkin banget akan ditanyakan oleh bos kita di lingkungan kerja

Tapi dari sana, working memory saya menjadi terlatih. Saya menjadi terbiasa untuk menerima informasi baru, menemukan permasalahan, menggunakan prinsip-prinsip yang sudah ada sebelumnya, saya sesuaikan dengan permasalahan hidup yang ada, lalu saya pun menemukan solusi atas permasalahan tersebut.

Matematika membantu saya untuk berpikir sistematis. Meskipun pertanyaan tentang logaritma atau diferensial tidak akan pernah ditanyakan oleh bos saya, tapi otak saya yang sudah terlatih sistematis ketika belajar matematika bertahun-tahun akan membuat saya memiliki pola pikir yang lebih runut dan berfokus pada pemecahan masalah. Pasti kamu masih ingat ketika SD, guru matematika kamu mewajibkan kamu untuk menulis informasi-informasi apa saja yang diketahui dan ditanyakan, baru kamu boleh menuliskan penyelesaian. Tujuannya apa? Agar saat kamu terjun ke lingkungan kerja yang keras tersebut, kamu juga terbiasa untuk menyelesaikan masalah pekerjaan (dan masalah kehidupan)  dengan mengetahui dulu apa yang sudah kamu ketahui, apa yang sedang menjadi pertanyaan hidup kamu, lalu bagaimana mencari penyelesaian masalah tersebut.

Hidup lebih rumit daripada matematika, guys!

Karena dilarang menggunakan kalkulator, kita terbiasa untuk mengutamakan kemampuan diri kita sendiri terlebih dahulu, baru mengandalkan teknologi

Kita akan mensyukuri hal tersebut karena kita tidak menjadi tergantung kepada teknologi. Ketika ada masalah hidup muncul, yang kita andalkan adalah diri kita dahulu. Mungkin kita akan memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan di dalam pekerjaan, tetapi kita tidak akan ketergantungan kepada teknologi. Justru, kita akan lebih mengandalkan otak kita sendiri. Kenapa? Karena kita sudah terbiasa untuk percaya pada diri sendiri terlebih dahulu dibandingkan teknologi!

Ketika bekerja, kamu pun menyadari bahwa banyak rekan-rekan kerja kita yang perfeksionis, yang tidak akan mentoleransi kesalahan kita, sekecil apapun…

Kamu marah besar pada guru kamu yang memberikan nilai 0 hanya karena sebuah kesalahan kecil di dalam soal matematika? Kamu akan merasakan bahwa dunia kerja jauh lebih keras daripada guru matematika kamu. Bos kamu tidak akan mau tahu saat kamu tidak melakukan hal 100% sesuai dengan yang ia harapkan padahal kamu sudah lembur semalaman. Klien kamu mungkin akan marah besar dan memaki-maki kamu ketika kamu melakukan kesalahan yang menurut kamu kesalahan kecil. Guru matematika memang tega memberikan nilai 0, tapi beliau masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tersebut melalui remedial. Di dunia kerja, tidak ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

Ulangan selalu lebih susah daripada PR, demikian juga dengan hidup. Masalah selalu muncul di luar dugaan kita, bahkan di luar dari persiapan kita!

Mengeluh ulangan lebih susah daripada PR? Berterimakasihlah karena guru matematika kamu sedang mempersiapkan kamu menghadapi kehidupan yang jauh lebih tidak terduga. Dalam kehidupan (dan pekerjaan), mungkin kamu sudah mempersiapkan diri kamu sebaik mungkin, tapi tetap saja masalah akan muncul dan menimpa di luar dugaan kita. Karena kamu sudah terbiasa “kaget” karena ulangan matematika yang jauh lebih sulit dari persiapan kamu, kamu pun menjadi sedikit lebih siap menghadapi “kaget” karena masalah kehidupan yang jauh lebih sulit dibanding dugaan kamu.

Berterima kasihlah kepada guru kamu! Hidup pelajar!

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s