Mengapa Si “Malas” Mendapat Nilai Bagus?

sumber gambar: http://mybrainnotes.com/triune-brain-theory.jpg

Saat saya masih kuliah S1, banyak sekali teman saya yang mengeluhkan hal tersebut. Mereka merasa sudah belajar dengan baik. Buku teks maupun catatan sudah dibaca dengan baik, jam belajar pun sudah diperbanyak (bahkan sampai bergadang), sampai sudah diulangi berkali-kali; tapi tetap saja, nilai yang diperoleh masih pas-pasan.

Di sisi lain, ada murid yang sepertinya tidak terlalu menghiraukan ujian. Di kelas ia mendengarkan penjelasan seperti biasa, catatannya juga tidak lengkap; bahkan lebih sering ia memfotokopi dari temannya, atau mungkin anda yang catatannya lengkap. Di rumah, jadwal belajarnya tidak tentu. Ia belajar mengikuti suasana hatinya saja. Jika sedang ingin belajar, ya belajar; jika sedang ingin bermain, ya main. Terkadang bahkan tidak belajar sama sekali. Tapi hasil ujiannya? Seringkali melebihi nilai siswa-siswa lainnya. Biasanya si “malas” ini adalah siswa laki-laki dan suka bermain game, tapi pernah juga saya siswa tipe ini temui dari perempuan.

Si “malas” ini pun menjadi tanda tanya besar bagi teman-temannya. Belajar jarang, selalu santai, tapi nilainya lebih bagus daripada si X yang belajar gila-gilaan. Mungkin anda salah satunya, sudah belajar dengan sekeras mungkin tapi tetap mendapatkan nilai yang lebih rendah daripada si “malas”; atau mungkin anda adalah si “malas” ini?

Mengapa hal ini bisa terjadi, si “malas” justru nilainya seringkali bagus? Bukankah rajin pangkal pandai?

Paul McLean, seorang dokter asal Amerika, pada tahun 1960 menyatakan bahwa otak manusia  terdiri dari 3 bagian, yaitu: (1) otak reptil, (2) otak mamalia, dan (3) neo-korteks. Teori ini kemudian dinamai sebagai triune brain model. Meskipun teori ini sudah jauh tertinggal zaman dan sudah banyak riset-riset tentang otak lainnya yang lebih muktahir, namun dalam beberapa konteks teori ini tetap relevan dan mampu menjelaskan fenomena-fenomena tertentu.

Otak reptil atau yang disebut juga sebagai ganglia basal merupakan bagian otak yang paling primitif. Otak reptil tidak untuk “berpikir” dan tugasnya adalah mengatur insting manusia; seperti makan, bertahan hidup, dan berkembang biak. Disebut sebagai otak reptil karena bagian otak ini juga ditemukan pada reptil.

Bagian selanjutnya yaitu otak mamalia, atau sistem limbik adalah bagian yang mengatur emosi. Manusia melakukan penilaian suka dan tidak suka melalui otak mamalia ini. Cinta, rasa haru, dan perasan-perasaan lainnya diatur oleh bagian ini.

Bagian terakhir dan yang paling maju, adalah neo-korteks. Bagian otak ini hanya dimiliki oleh manusia; mengatur proses berpikir dan akal budi; seperti berbahasa, berpikir abstrak, melakukan perencanaan, dan persepsi. Manusia belajar dengan sangat efektif pada bagian otak ini.

Apa hubungan triune brain model dengan belajar?

Otak mamalia – yang mengatur emosi – akan mengeluarkan respon-respon tertentu berdasarkan perasaan yang muncul. Saat kita merasa ketakutan atau cemas, otak mamalia akan memberikan sinyal dan otak reptil pun diaktifkan. Mengapa otak reptil? Karena otak reptil adalah bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi bertahan hidup. Sayangnya, otak reptil tidak bisa digunakan untuk berpikir sehingga respon yang muncul adalah “fight or flight”.

Sebaliknya, neo-korteks akan aktif jika otak mamalia mengeluarkan emosi yang menyenangkan. Saat kita sedang bahagia atau rileks, neo-korteks pun akan aktif. Seperti yang sudah dijelaskan, neo-korteks adalah bagian otak yang mengatur akal budi dan logika; pembelajaran pun dilakukan pada neo-korteks.

Saat anda belajar, emosi apa yang anda keluarkan? Apakah cemas, khawatir, rileks, atau senang?

Si “santai” tentu akan belajar dalam kondisi santai, karena memang ia hanya belajar jika suasana hatinya sedang mendukung. Maka dari itu, jangan heran jika ia terkesan mahir sekali menyerap ilmu-ilmu yang ada di dalam buku; itu dikarenakan dia berada dalam kondisi rileks sehingga neo-korteksnya sedang dominan. Pembelajaran pun menjadi sangat efektif.

Sebaliknya, bagaimana jika kita belajar dalam kondisi tertekan, karena ujian akan dilaksanakan esok pagi? Meskipun kita sudah belajar semalaman suntuk, informasi yang masuk ke dalam otak kita tetap tidak bisa maksimal karena bagian otak reptil yang sedang dominan pada saat kita merasa cemas. Otak reptil tidak seperti neo-korteks yang memang dikhususkan untuk memelajari hal-hal kompleks seperti ini. Akibatnya… ya gitu deh.

Mungkin anda bisa membuktikannya sendiri. Mengapa anda lebih cepat memahami pelajaran-pelajaran yang anda suka dibandingkan dengan yang tidak anda sukai? Hal itu karena memang neo-korteks kita sedang dominan, sehingga proses pembelajaran dapat terjadi dengan maksimal.

Setelah mengetahui hal ini, apa yang harus kita lakukan?

Mengapa kita bisa merasa tertekan saat belajar? Hal ini semata-mata karena ujian sudah di depan mata! Biasanya kita senang menunda-nunda belajar sehingga materi ujian menumpuk dan dhuar! Ujian akan dilaksanakan esok hari. Memelajari 8 bab dalam semalam tentu tidak akan menyenangkan. Untuk itu, belajarlah dengan cara mencicil setiap kita sedang memiliki waktu luang. Kondisi waktu luang adalah kondisi rileks, sehingga neo-korteks bisa mendominasi kerja otak dan kita akan lebih cepat memelajari sesuatu. Selain itu, dengan mencicil kita akan terhindar dari kondisi “ujian-tinggal-satu-malam-lagi-dan-gue-stres-karena-belum-belajar-sama-sekali”.

Selain itu, mencicil juga akan menghindari kita dari bergadang.

SKS atau sistem kebut semalam adalah metode yang sangat buruk dalam belajar. Amat sangat buruk! Saat kita mengalami kurang tidur, pasokan oksigen ke otak kita akan berkurang, sehingga kita akan menjadi lebih lemot, lemas, dan kurang siap untuk berpikir dengan baik. Di samping itu, saat kita tidur justru informasi-informasi yang sudah kita dapat dari belajar tadi akan diproses ke memori jangka panjang. Bagi yang belum familiar dengan istilah ini, terdapat dua macam ingatan/memori: (1) ingatan jangka pendek dan (2) ingatan jangka panjang. Sesuai namanya, ingatan jangka pendek sifatnya hanya sementara dan cepat hilang, sedangkan ingatan jangka panjang akan terus tersimpan di dalam otak kita. Saat kita membaca buku, sebagian besar informasi yang kita dapatkan hanya masuk ke dalam ingatan jangka pendek, hanya informasi-informasi yang sangat penting (misalnya: informasi yang sudah berulang-ulang kita terima sehingga dianggap penting) saja yang akan masuk ke dalam ingatan jangka panjang. Agar ingatan jangka pendek tersebut dapat diproses dan masuk ke dalam ingatan jangka panjang, kita butuh tidur, minimal selama 4½ jam. Proses ini dikenal sebagai konsolidasi.

Mungkin penjelasan di atas terlalu panjang. Intinya, harus cukup tidur! Karena proses belajar kita akan sia-sia jika kita kurang tidur. Saat kita tidur, otak akan memproses hasil belajar kita ke ingatan jangka panjang yang akan tersimpan selamanya di otak kita.

Kalau tidak percaya, coba saja belajar semalaman suntuk sehingga kurang tidur, bagaimana hasilnya? Bandingkan dengan hasil ujian ketika waktu tidur kita cukup. :)

Well, untuk menutup, saya akan menyimpulkan tulisan ini:

1. Belajarlah dengan rileks, karena kondisi rileks akan merangsang otak untuk lebih mudah dalam menyerap informasi. Si “malas” bisa lebih cepat belajar karena ia belajar dalam kondisi rileks, bukan tertekan.

2. Hindari SKS agar jatah tidur anda tetap tercukupi. Kurang tidur hanya akan menghambat proses belajar anda sehingga belajar yang sudah anda lakukan semalam suntuk menjadi sia-sia. Si “malas” bisa mendapatkan nilai tinggi karena tidak pernah rela belajar hingga subuh.

3. Tetap belajar rajin dengan mengikuti 2 tips di atas :).

Jadi, sudah tahu kan, mengapa si “malas” tetap bisa mendapatkan nilai bagus meskipun terlihat jarang belajar? Anda bisa menirunya dengan cara mengikuti tips-tips di dalam tulisan ini.

Semoga sukses!

https://plus.google.com/u/0/105354065244269429886/posts/?rel=author

9 responses to “Mengapa Si “Malas” Mendapat Nilai Bagus?

  1. makasih kak, sangat bermanfaat

  2. baguss bageet artikelnya kak

  3. Mantab jiwa

  4. aku salah satu si “malas” itu. sekarang aku sudah nggak heran lagi. thanks infonya (y)

  5. Setelah sekian lama baru tau saya jawaban dari permasalahan ini,thanks a lot

  6. Kak, aku ga belajar sama sekali *Gak belajar sama sekali*
    PR aja jarang banget, paling copas temen atau pasrah
    Begadang selalu, main game full time. Tapi kalau belajar, ku gk pelajari apa yg ada disekolah, belajar apa yg kumau aja. Malah bukan pelajaran seumuran aku (aku smp) , saat ujian juga ga belajar mati matian, malah main game terus. Belajar pas ujian cuma saat ujian mau dimulai atau mau masuk kelas.
    Tapi kenapa nilai ku malah bagus daripada mereka yg disayang guru? Malah ranking 2 kak. Juga kalau menghafal aku paling cepat, sayangnya terlalu MALAS, aku siswi mts . Menurut kakak gimana?

  7. Jawab ya kakak

  8. Ronald Adi Setiawan

    Bagus penjelasannya

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s