Malam Imlek di Petak Sembilan

Camera 360

Harum bunga sedap malam memenuhi ruang-ruang di rongga hidung ketika berjalan di sepanjang Jl. Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Waktu menunjukkan pukul 20.00, pada tanggal 30 Januari, tepat malam sebelum Imlek. Di Petak Sembilan para pedagang manisan dan angpau mulai beristirahat dan membereskan lapak-lapaknya. Jalanan di sana sudah sepi, tapi jika kita berjalan sekitar 1 kilometer menelusuri Petak Sembilan tersebut, kita akan menemukan keramaian dari Kelenteng Jin De Yuan atau Vihara Dharma Bakti.

Jin De Yuan (baca: Cin Te Yuen, dalam lafal Hokkian disebut sebagai Kim Tek Ie), sejatinya bukanlah sebuah vihara. Saya lebih setuju menyebutnya sebagai kelenteng, karena vihara merupakan tempat kebaktian umat Buddha, sedangkan kelenteng merupakan gedung budaya dan ibadah dari umat kepercayaan rakyat Tionghoa. Agama Buddha bukan milik orang Tionghoa saja, bisa saja menjadi milik orang Jawa (saya kaget ketika guru saya mengatakan banyak sekali umat Buddha adalah orang Jawa), orang India, atau suku lainnya. Sedangkan orang Tionghoa, ya hanya untuk suku Tionghoa saja. Di dalam kelenteng terdapat berbagai dewa-dewa pemujaan orang Tionghoa. Buddha merupakan salah satunya, di samping dewa-dewa dari agama Taoisme dan juga Konghucu. Di Indonesia, agama rakyat Tionghoa ini lebih dikenal dengan nama agama Konghucu.

Nama Jin De Yuan di-“vihara”-kan menjadi Vihara Dharma Bakti pada rezim Orde Baru, karena pada saat itu semua hal yang berbau Tionghoa dibekukan. Jin De Yuan merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Didirikan pertama kali pada tahun 1650 dan kala itu bernama Kwan Im Teng, yang bisa diterjemahkan sebagai “Paviliun Kwan Im”.

Jin De Yuan, Pusat Hiruk Pikuk Malam Imlek

Tempat yang paling ramai di Petak Sembilan malam ini. Belasan polisi menjaga dengan pos masing-masing, dan ratusan (bahkan mungkin ribuan) pengemis berkumpul dan dibatasi oleh garis polisi. Mobil beberapa stasiun TV parkir di depan kelenteng, beberapa wartawan dan fotografer mengabadikan ritual sembahyang menjelang tahun baru Imlek. Orang-orang menyalakan lilin, dupa, dan hio untuk bersembahyang. Sambil menikmati suara meriah kembang api, saya mengelilingi Jin De Yuan kini terdiri dari 4 gedung kelenteng. Masing-masing kelenteng memiliki “tuan rumah” sendiri. Tuan rumah yang dimaksud adalah dewa yang menjadi obyek pemujaan utama.

Lilin besar di dalam Jin De Yuan. Tingginya sekitar 2 meter.

Lilin besar di dalam Jin De Yuan. Tingginya sekitar 2 meter.

Gedung yang paling ramai – yang disebut dengan Vihara Dharma Bakti – dituanrumahi oleh Guan Yin (观音, baca: Kwan In) atau Dewi Kwan Im atau Avalokitesvara Bodhisattva. Dewi Kwan Im tidak hanya dikenal oleh orang Tionghoa saja, tetapi juga bagi para penganut Buddhisme. Dalam kitab suci Buddhisme Mahayana, Dewi Kwan Im adalah seorang calon Buddha dengan cinta kasih yang sangat besar. Beliau akan menolong dan mengabulkan doa-doa umatnya yang sungguh-sungguh. Di sisi lain, memang banyak orang Tionghoa maupun umat Buddha yang sudah merasakan bantuan dari Dewi Kwan Im.

Umat sedang berdoa kepada Dewi Kwan Im, memohon berkat untuk tahun yang baru.

Umat sedang berdoa kepada Dewi Kwan Im, memohon berkat untuk tahun yang baru.

Gedung selanjutnya dikenal dengan Vihara Dharma Sakti, dengan Ksitigarbha Bodhisattva atau Di Zhang Wang. Ksitigarbha Bodhisatva dikenal oleh umat Buddha karena ikrarnya akan menolong makhluk-makhluk yang disiksa di dalam neraka. Pada awalnya beliau adalah seorang gadis bernama Sheng Nu (baca: Sheng Ni). Akibat beberapa hal, ia dibawa untuk melihat neraka. Tergerak oleh siksa derita para makhluk neraka, ia pun berikrar akan melatih diri agar memiliki pahala yang besar dan mampu membantu mereka. Salah satu sumpahnya yang terkenal adalah tidak akan mau menjadi Buddha sebelum neraka kosong.

Gedung ketiga disebut dengan Hui Tek Bio. Sesuai namanya, tuan rumah dari Hui Tek Bio adalah Hui Tek Tjun Ong atau Hui Ze Zun Wang (惠泽尊王, baca: Hui Ce Cun Wang). Sulit untuk mendapatkan informasi mengenai dewa dari agama Tao ini, tetapi konon Hui Ze Zun Wang adalah leluhur dari marga Ye (Yap) dari daerah Nan An. Ada yang mengatakan beliau hidup pada dinasti Tang, ada juga informasi yang menyatakan beliau hidup di dinasti Song.

Pekarangan kelenteng Jin De Yuan.

Pekarangan kelenteng Jin De Yuan.

Camera 360

Menyalakan dupa dan lilin.

Camera 360

Gedung keempat merupakan gedung dengan Han Tan Kong sebagai tuan rumah. Han Tan Kong atau Chao Gong Ming dikenal sebagai salah satu dari dewa rezeki selain Cai Sen Ye (dalam agama rakyat Tionghoa). Umumnya digambarkan dengan wujud pria berwajah cukup seram dan mengendarai seekor harimau, tapi ada juga yang menggambarkannya sebagai pria rupawan. Menurut informasi yang saya dapatkan dari pengurus kelenteng, Han Tan Kong juga merupakan dewa para pedagang.

Camera 360

Altar pemujaan kepada Han Tan Kong.

Tidak jauh dari Jin De Yuan, saya berjalan sekitar 200 meter menuju Jl. Kemenangan III menuju sumber keramaian lainnya, kelenteng Toa Se Bio.

Toa Se Bio

Meskipun tidak seramai Jin De Yuan, Toa Se Bio (atau Vihara Dharma Jaya) tetap riuh meriah. Belasan pengemis berada di depan kelenteng menunggu rezeki. Beberapa polisi menjaga sekeliling. Puluhan umat datang bersembahyang, menyalakan ratusan lilin dan dupa yang aromanya memenuhi seisi gedung. Lampion-lampion cantik menghiasi langit-langit ruangan.

Terdapat kisah bahwa kelenteng ini pernah terbakar pada tahun 1740, seluruh isi bangunan habis, terkecuali hiolo (tempat untuk menaruh dupa). Meskipun terbuat dari kayu, hiolo tidak terbakar sama sekali. Bagi orang Tionghoa, mungkin itu mukjizat dari Cheng Goan Cheng Kun atau Toa Se Kong yang merupakan tuan rumah dari kelenteng ini.

Depan Toa Se Bio.

Depan Toa Se Bio.

Salah satu pelataran Toa Se Bio. Paviliun ini digunakan untuk memuja kepada Tuhan dalam agama Tionghoa.

Salah satu pelataran Toa Se Bio. Paviliun ini digunakan untuk memuja kepada Tian Gong, Tuhan YME dalam agama Tionghoa.

Tidak jauh dari Toa Se Bio, pada jalan yang sama, saya mendengar sumber keramaian lain. Asalnya dari sebuah gang yang di depannya terdapat gapura dengan tulisan “Fat Chu Kung Bio”. Tertarik, saya pun masuk ke dalam gang tersebut dan menemukan sebuah kelenteng yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan Jin De Yuan dan Toa Se Bio.

Fat Chu Kung Bio

Gang menuju Fat Cu Kung Bio.

Gang menuju Fat Cu Kung Bio.

Sesuai dengan namanya, tuan rumah dari kelenteng ini adalah Fat Chu Kung atau Fa Zhu Gong (法主公, baca: Fa Chu Kung). Secara literal, Fa Zhu Gong berarti “Tuan Penjaga Kebenaran”. Fa Zhu Gong merupakan dewa dari Taoisme yang dipuja karena pengorbanannya. Bersama kedua adiknya, Fa Zhu Gong bertarung melawan siluman ular yang sudah berusia ribuan tahun. Di Fu Jian dan Taiwan, Fa Zhu Gong cukup terkenal dan dipuja oleh para penganut Tao.

Suasananya agak remang, meskipun di luar kelenteng para umat dan pengurus Fat Chu Kung Bio sedang memainkan gendang untuk memeriahkan suasana Imlek. Bangunan kelentengnya sendiri tidak terlalu luas, mungkin hanya sekitar puluhan meter. Beberapa umat sedang berdoa di sana. Memasuki kelenteng, seorang pengurus memandu saya untuk menyalakan lilin dan dupa untuk pemujaan kepada para dewa. Menurut informasi dari pengurus, kelenteng ini sering mengadakan kirab/gotong Toa Pe Kong.

fat cu kung bio 1

Merasa puas melihat-lihat Fat Chu Kung Bio, saya pun keluar dari gang dan menikmati suasana malam tahun baru Imlek. Gereja Maria de Fatima yang gaya arsitekturnya kental dengan corak Tionghoa sudah tutup, bertolak-belakang dengan kelenteng-kelenteng yang semakin ramai merayakan datangnya tahun baru Imlek. Saya pun segera kembali ke tempat saya memakirkan kendaraan dan pulang ke rumah, untuk melewati malam tahun baru Imlek bersama keluarga.

Akhir kata, saya mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek, semoga terus muncul kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan diri dan kehidupan.

Gong Xi Fa Cai!

Iklan

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s