Kisah di Balik Kue Keranjang

Menjelang hari raya Imlek, salah satu makanan yang wajib disiapkan adalah kue keranjang (beberapa orang menyebutnya dengan dodol China). Mungkin anda sudah familiar dengan kue ini. Bentuknya bundar (walaupun mungkin juga ada bentuk-bentuk lainnya), warnanya hitam kecoklatan, teksturnya empuk dan lengket. Kalau anda coba, rasanya manis sekali dan lengket di mulut, bahkan sering menempel di gigi. Biasanya dipotong dan dimakan langsung begitu saja, terkadang ada juga yang dimakan bersama dengan parutan kelapa untuk memperkaya rasa. Cara lain untuk menyantapnya adalah dengan mendiamkannya berbulan-bulan hingga sedikit mengeras, kemudian dibalur dengan campuran tepung dan telur lalu digoreng di dalam minyak panas. Dihidangkan panas-panas dan garing, rasanya tentu akan membuat air liur menetes.

Bagi orang Tionghoa, kue keranjang wajib ada saat Imlek. Kue keranjang dalam Bahasa Mandarin disebut sebagai nian gao (年糕, baca: nien kao) dan dalam Bahasa Hokkian disebut dengan ti kwe (甜棵, baca: ti ke dengan e seperti apel, secara literal berarti: kue yang manis). Nian berarti tahun, sedangkan gao berarti kue, sehingga secara literal nian gao bisa berarti kue tahun. Kata gao juga memiliki arti lain, yaitu tinggi; sehingga bisa juga berarti harapan bahwa tahun ini membawa rezeki yang lebih tinggi. Memang, biasanya kue keranjang disusun bertingkat ke atas, melambangkan rezeki yang terus meningkat.

Sejarah Pahit di Balik Manisnya Kue Keranjang

Meski rasanya, terdapat sejarah pahit mengenai kue keranjang. Dikisahkan sekitar 5000 tahun yang lalu pada musim semi, negri Tiongkok dilanda banjir. Banjir tersebut diakibatkan oleh salju pada Gunung Gobi yang meleleh sehingga Sungai Kuning (Huang Ho/Huang He) meluap. Air bah menyerang pedesaan, merusak seluruh rumah dan menghabiskan bahan makanan. Kelaparan pun tidak terhindarkan. Kemudian tercetus ide untuk menciptakan makanan yang mengenyangkan dan tahan lama untuk disimpan. Terciptalah kue keranjang yang mudah dimakan, mudah disimpan, tahan lama, dan juga enak. Kelaparan pun terhindarkan dan banjir pun akhirnya surut. Akhirnya, setiap musim semi (awal tahun), seluruh orang Tionghoa menyantap kue keranjang untuk mengenang penderitaan nenek moyang saat musim semi.

Menutup Mulut Dewa Dapur

Ada legenda di balik kue keranjang. Seminggu sebelum Imlek (tanggal 23 bulan 12 penanggalan lunar), umumnya orang Tionghoa mengadakan sembahyang kepada Dewa Dapur (nama lain: 1. Zao Jun Gong 灶君公, baca: Chao Cun Kung, arti: Penguasa Tungku, 2. Zao Shen 灶神, baca: Chao Sen, arti: Dewa Tungku, 3. Bahasa Hokkian: Cao Kun atau Cao Sin). Dewa Dapur mencatat setiap tindak tanduk orang di dalam rumah, dan menjelang tahun baru, Dewa Dapur akan menghadap langit dan melaporkan semuanya kepada Kaisar Giok (Yu Huang Da Di, 玉皇大帝, baca: Yi Huang Ta Ti). Kaisar Giok atau Kaisar Langit adalah personifikasi Tuhan dalam agama rakyat Tionghoa. Jika Dewa Dapur memberikan laporan yang buruk, maka Kaisar Giok akan menurunkan bencana kepada keluarga tersebut; sebaliknya jika yang dilaporkan adalah hal baik, maka rezeki yang akan dihadiahkan kepada mereka.

Sebelum Dewa Dapur naik ke langit atau disebut juga dengan “Toa Pe Kong naik”, sembahyang dilakukan. Berbagai persembahan yang manis diberikan seperti madu dan kue keranjang. Tujuannya agar sebelum naik ke langit, Dewa Dapur akan menyantap persembahan-persembahan tersebut sehingga mulutnya menjadi lengket dan tidak dapat melaporkan hal-hal buruk kepada Kaisar Giok. Versi lain, untuk menyogok Dewa Dapur sehingga ia hanya melaporkan yang baik-baik saja kepada Kaisar Giok. Dalam beberapa tradisi, madu dilumurkan pada bibir patung Dewa Dapur.

Makna Persembahan Kue Keranjang

Dua kisah di atas menjelaskan makna dari hidangan kue keranjang saat Imlek. Secara historis, kue keranjang mengingatkan pada penderitaan nenek moyang warga Tionghoa saat musim semi. Hal ini dilakukan agar kita dapat mensyukuri kehidupan yang sudah kita miliki dan tidak lupa diri. Secara religi, kue keranjang merupakan hidangan penutup mulut atau sogokan kepada Dewa Dapur, agar beliau hanya melaporkan hal-hal baik kepada Kaisar Giok dan Beliau menurunkan rezeki ke bumi. Hal ini membuat kita semakin optimis dan semangat menyambut tahun baru..

Jadi, di balik kue keranjang yang rasanya enak dan manis tersebut, terdapat nilai-nilai positif yang dapat kita anut dalam kehidupan kita sehari-hari. Kue keranjang bukan sekedar hidangan semata, tetapi juga produk dari sejarah dan kebudayaan Tionghoa yang tidak tergerus oleh zaman. Bagi anda yang ingin segera menyantap kue keranjang… mohon sabar, karena biasanya kue keranjang di santap setelah Cap Go Meh, alias 15 hari setelah tahun baru Imlek :).

Sebagai penutup, selamat merayakan Tahun Baru Imlek, semoga manisnya kue keranjang juga menjadi manis bagi hidup kita!

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s