Jatuh Hati dengan Mind-Map

Sebagai mahasiswa, salah satu periode yang paling tidak saya tunggu-tunggu adalah UTS (ujian tengah semester) dan UAS (ujian akhir semester). Jika anda pernah menjadi pelajar, anda tentu juga sudah tahu alasannya. Malas sekali rasanya harus memelajari (dan menghafal) materi yang jumlahnya berbab-bab untuk satu mata kuliah. Apalagi ada mata kuliah yang sampai 12 bab, dan tidak hanya sekedar hafalan, anda harus memahami teori-teori dalam bab tersebut sampai mendalam!

Berbagai macam teknik belajar pun saya coba. Mulai dari katanya harus belajar sambil dilafalkan, belajar sambil mengajarkan kepada orang lain, bagi saya hasilnya kurang terlihat. Memang, saya tidak suka belajar dengan berisik. Belajar sambil melafalkan materi ujian tidak cocok dengan saya yang lebih suka belajar dengan hening dan tenang, apalagi belajar sambil mengajarkan kepada orang lain. Akhirnya, saya temukan sebuah teknik yang sebelumnya sudah saya ketahui tetapi tidak pernah saya pertimbangkan: MIND-MAPPING.

Saya sudah mengetahui mind-mapping dari semester pertama kuliah, bahkan dari SMA. Tapi teknik ini tidak pernah saya pertimbangkan, alasannya bagi saya waktu itu: ribet ah mesti repot2 bikin catatan warna-warni lagi!. Mind-map memang mengandalkan gambar dan warna untuk membantu proses belajar. Pemikiran saya tentang mind-map mulai berubah ketika Pak Vincent, orang tua dari murid les saya (berarti bos saya ya :P) menunjukkan saya sebuah buku tentang mind-map. Singkat kata, saya pun mencoba mind-map.

sumber gambar: putricitraningrum.blogspot.com

Secara ringkas, mind-map menurut saya adalah sebuah teknik mencatat. Ya, teknik mencatat, bukan teknik belajar lo! Tapi memang teknik pencatatan dengan mind-mapping sangat membantu belajar saya. Mind-map merupakan representasi pikiran (pemetaan pikiran) yang dituangkan dalam sebuah kertas. Pokok pikiran dari tema yang sedang dicatat berada di tengah, kemudian bercabang menjadi berbagai macam sub-pokok pikiran, yang kemudian juga bercabang lagi menjadi informasi-informasi tertentu. Tony Buzan, penemu teknik mind-map, meyakini bahwa otak kita menyimpan informasi dalam bentuk seperti itu (menyebar dan seperti jaring), bukan terarsip dan tersimpan rapi layaknya folder bisnis anda.

Mind-map mengandalkan gambar dan warna. Asumsinya, otak kita lebih responsif terhadap gambar dan warna; bukan kata-kata. Sebagai contoh, ketika saya meminta anda untuk membayangkan JERUK. Apa yang muncul dalam pikiran anda? Saya yakin, sebagian besar dari anda pasti membayangkan sebuah jeruk berbentuk bulat dan berwarna jingga. Pikiran anda akan menghadirkan gambaran sebuah jeruk yang sering anda lihat terlebih dahulu, bukan menghadirkan tulisan J.E.R.U.K. Apa ada di antara anda yang menghadirkan tulisan J.E.R.U.K terlebih dahulu baru menghadirkan gambar sebuah jeruk?

Sebagian besar dari kita (baca: pelajar) memang malas untuk membaca catatan-catatan kuliah karena isinya yang monoton. Apakah anda juga membuat catatan dengan: (1) satu macam warna saja, hitam atau biru; (2) mengikuti garis-garis buku; dan (3) penuh dengan tulisan-tulisan? Sama, dulu saya juga begitu :). Mind-map mengajarkan hal yang berbeda dalam mencatat. Kita harus memaksimalkan warna-warna yang ada dalam mencatat. Dalam mind-map, tidak ada aturan dalam mencatat. Anda tidak harus mengikuti garis-garis buku. Silakan tarik garis ke atas, ke samping, ke bawah, lurus, melengkung, terserah anda… dan tentunya tidak hanya berisi tulisan. Mind-map lebih menekankan penggunaan gambar-gambar dalam mencatat, karena memang otak kita lebih menyukai gambar.

Singkat kata, teknik pencatatan dengan mind-map ternyata sangat bermanfaat bagi saya. Satu bab buku teks kuliah (yang tebalnya seampun) dapat saya ringkas menjadi satu halaman kertas A4 saja. Kok bisa? Inilah hebatnya mind-map, saya jadi tidak perlu mencatat berlembar-lembar lagi. Bahkan saya bisa merangkum satu buku dalam satu halaman kertas A4 dengan menggunakan mind-map, tapi tentu saja untuk buku-buku yang lebih santai, bukan buku teks kuliah. Manfaat lainnya, proses belajar saya juga serasa menjadi lebih mudah. Dengan bentuk mind-map yang menyebar, saya lebih mudah memahami materi-materi dalam bab tersebut. Proses pencatatan yang kreatif, tanpa aturan baku, penuh warna, dan penuh gambar juga semakin memotivasi saya untuk belajar. Simpulannya, mind-map memang memudahkan saya dalam mencatat dan belajar.

Well, saya jatuh hati sekali dengan mind-map. Bagi anda yang tertarik dengan mind-map, tunggu tulisan-tulisan saya selanjutnya di blog ini! :)

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s