Kisah Inspiratif Sang Wisudawan Bergerobak

Kata siapa keterbatasan biaya dapat menghentikan impian-impian manusia? Uang adalah hal penting yang sangat membantu untuk menjalani kehidupan ini, tetapi tanpa uang bukan berarti tidak bisa berkembang. Sebagai manusia, kita memiliki modal utama yang luar biasa dan sering kita lupa untuk syukuri, yaitu akal budi dan semangat. Sebuah kisah dari negri kita sendiri menyadarkan saya akan pentingnya semangat dan daya juang yang tinggi dalam menggapai impian. Kisah si Cecep, sang wisudawan bergerobak yang kisahnya saya dapatkan dari http://www.kaskus.co.id.

Cecep merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada, sebuah universitas negri bergengsi di Indonesia. Cecep memulai usahanya sejak ia mulai berkuliah. Di awal usahanya, Cecep berdagang empal gentong dengan mendorong gerobak di sekitar kost-kostan kampus. Lebih lanjut lagi, ia pun mencoba berdagang di sekitar kampus. Usahanya ini tidak berjalan lancar, karena ia harus bermain “petak umpet” dengan pihak SKK kampus UGM (saya tidak tahu apa itu SKK, tapi saya rasa seperti sebuah staf keamanan kampus) yang bertugas menertibkan pedagang kaki lima di sekitar kampus.  Permainan petak umpet tidak berjalan lancar dan pada akhirnya Cecep tertangkap oleh petugas SKK kampus. Karena memang seorang mahasiswa UGM, Cecep pun menyatakan bahwa ia adalah mahasiswa UGM dan menunjukkan kartu mahasiswanya. Namun apa daya, memiliki status mahasiswa UGM bukan berarti dapat dibebaskan oleh SKK dan akhirnya Cecep dibawa ke rektorat.

Di kantor rektorat, melalui berbagai dialog, rektorat justru menjadi curhat kepada Cecep mengenai para pedagang di lingkungan UGM. Dan mungkin melihat keteguhan Cecep untuk berkuliah sambil berdagang, Cecep pun akhirnya diberikan modal oleh rektorat untuk membuka warung makan dengan menu andalan empal gentong. Meskipun akhirnya usahanya cukup maju, Cecep masih suka berdagang keliling dengan gerobaknya di sekitar Pasar Tugu.

Singkat cerita, Cecep pun lulus sebagai sarjana teknik jurusan mesin di UGM. Di kala hari wisuda, di mana para wisudawan-wisudawati datang dengan mobil dengan dandanan yang sangat indah dipandang, Cecep justru datang bersama gerobaknya. Dengan santainya, Cecep beralasan, “Sekalian jualan.”

Wisudawan Cecep dengan gerobaknya

Warung Cecep saat ini

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah Cecep?

Di kala banyak orang yang berhenti mengejar cita-citanya karena keadaan yang tidak mendukung, Cecep tetap berusaha mencapai cita-citanya menjadi sarjana meskipun harus berkuliah sambil berjualan. Dan lihatlah, Cecep tidak berkecil hati sama sekali lantaran harus berdagang empal gentong dengan gerobak keliling meskipun ia adalah salah satu mahasiswa di universitas ternama.

Kita mungkin boleh dilahirkan dengan berbagai keterbatasan. Kita bisa saja mengalami halangan untuk mencapai cita-cita kita. Mungkin saja kita merasakan begitu sulitnya menggapai impian. Tapi kita tidak boleh menyerah semudah itu. Bukankah kita memiliki akal budi yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya? Marilah kita gunakan akal budi kita untuk mencari jalan keluar dan berusaha! Tidak ada yang sia-sia jika kita mau berusaha. Banyak orang tidak berani berinisiatif untuk berusaha karena sudah terpengaruh oleh bayangan-bayangan kegagalan di masa depan. Bagaimana jika nanti gagal? Kan malu, kan sayang modalnya. Bagaimana jika nantinya justru usaha saya tidak laris? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana. Hmmm… bagaimana jika kita ganti bayangan kegagalan tersebut dengan bayangan kesuksesan. Bagaimana jika usaha kita nanti menjadi sangat laris hingga-hingga kita kewalahan dengan banyaknya pelanggan yang ingin bertransaksi bersama kita? :)

Dan, Cecep juga tidak gengsi untuk berjualan empal gentong dengan gerobak meskipun ia adalah mahasiswa di UGM. Sifat ini harus kita tiru untuk mencapai kesuksesan kita. Seringkali dalam memulai sesuatu, kita merasa gengsi atau merasa kecil hati untuk berusaha. Kita merasa malu melakukan hal yang sebenarnya kita sukai. Gengsi mengalahkan diri kita. Rangga Umara, pengusaha rumah makan Lele Lela yang kini sudah memiliki puluhan cabang di Indonesia, berkata, “Kalau mau jadi kaya jangan gengsi, kebanyakan gengsi gak bakalan kaya, tapi kalau udah kaya pasti bergengsi.”

Dari kisah Cecep ini, kita mendapatkan dua pembelajaran yang berharga dalam kehidupan ini, yaitu (1) rajin bekerja, dan (2) tidak gengsi. Tidak perlu ragu lagi untuk menanamkan dua nilai berharga ini ke dalam diri kita, karena Cecep sudah membuktikan keampuhan nilai-nilai tersebut.

Iklan

3 responses to “Kisah Inspiratif Sang Wisudawan Bergerobak

  1. gini lho gan dulu mahasiswa ugm tuch kebanyakan anak orang tak punya namun cerdas2, orang sederhana sederhana,,, civitas akademika slalu berpihak pada masyarakat makanya,,

  2. senang ya kalau ada lembaga di Indonesia yang bisa perhatiin rakyat :)

  3. wah mantap tu bang cecep walau kliah di ugm tp semngt hidupnya 100000000% ee salut aq

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s