Reframing, Seni Mengubah Perilaku dan Emosi Negatif

Reframing merupakan salah satu dari tools NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang sangat jitu untuk mengubah perilaku atau emosi negatif dengan mengubah sudut pandang. Sesuai dengan namanya, reframing merupakan teknik membingkai ulang suatu peristiwa dengan sudut pandang yang lebih positif. Teknik ini bermain di area persepsi seseorang untuk mengubah emosi dan perilaku negatif.

Berapa kali kita terbawa pada persepsi negatif yang akhirnya membawa emosi dan perilaku yang negatif pula bagi diri kita? Persepsi hanyalah pemaknaan dan penilaian dari diri kita sendiri atas sebuah rangsangan atau kejadian yang kita alami (saya sebut sebagai stimulus). Stimulus tersebut bisa saja netral, tetapi diri kita memersepsikannya sebagai sebuah hal yang negatif sehingga kita memunculkan perasaan benci, kesal, marah, tidak menerima, dan perasaan-perasaan negatif lainnya dari dalam diri kita. Dari perasaan negatif tersebut, belanjutlah ke perilaku-perilaku negatif juga seperti marah-marah, menangis, dan sebagainya. Untuk menambah penjelasan mengenai persepsi, saya memiliki sebuah kisah yang menarik:

Suatu hari sang guru meminta keempat muridnya untuk berkumpul dan berdiri menghadap dirinya. Kemudian sang guru memandang satu-satu keempat muridnya yang sedang berdiri berjajar. Guru itu kemudian berdiri di hadapan muridnya yang pertama, lalu… PLAK! Sebuah tamparan melayang dari tangan sang guru dan mendarat ke pipi muridnya yang pertama. Sebuah cap tangan terjiplak di pipi kiri sang murid pertama. Murid yang pertama begitu terkejut, tetapi ia hanya bisa terdiam, sambil menahan rasa kecewa yang teramat dalam. Mukanya begitu kecewa dan menyimpan kebencian. ”Mengapa guru menamparku? Apa salahku? Ia benar-benar guru yang buruk! Aku benci dirinya!” Mungkin begitu yang ia gumamkan dalam hati.

Guru kemudian berjalan dan berdiri di hadapan murid kedua. PLAK! Sebuah tamparan indah kembali melayang di pipi kiri sang murid kedua. Murid kedua terkaget-kaget sekali. Ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Kemudian mukanya memerah, bukan karena jiplakan cap tangan sang guru tetapi sepertinya aliran darah naik ke atas kepalanya. Ia begitu marah. Kemudian dengan amarah yang membara, ia berteriak. ”Kau guru brengsek! Memukulku tanpa alasan. Apa salahku? Mati saja kau! Guru brengsek!” Kemudian ia pergi dan meninggalkan sang guru. Sang guru hanya diam saja melihat murid keduanya pergi dengan rasa marah yang membara.

Guru kemudian berjalan kembali dan berdiri di hadapan murid ketiga. Lagi-lagi sama, PLAK! Pipi sang murid ketiga sudah berjiplak cap tangan berwarna merah. Setelah tamparan indah itu mendarat, sang murid ketiga langsung berkata, ”Aku tahu maksudmu, guru.” Lalu ia tersenyum kepada sang guru. Sang guru kemudian memberikan senyuman balik. Mereka saling membalas senyum. Guru pun berjalan lagi.

Di hadapan murid yang keempat. Tanpa banyak bicara, PLAK! Tamparan kembali mendarat di pipi kiri murid keempat. Jika murid pertama hanya bisa diam memendam rasa kecewa, murid kedua meledakkan rasa kecewa kemudian meninggalkan sang guru, dan murid ketiga tersenyum kepada sang guru; maka murid keempat memiliki respon yang berbeda lagi. PLAK! Sebuah tamparan melayang dari tangan kanan murid keempat, dan mendarat di pipi kiri… gurunya! Murid keempat menampar pipi sang guru dengan tangannya sendiri. Murid pertama dan ketiga yang dari tadi berada di sana hanya terdiam. Kemudian secara bersamaan, sang guru dengan murid keempat tertawa bersama-sama. Tertawa penuh secara puas dengan waktu yang cukup lama. Kemudian sang guru berkata: ”Kamu ternyata sudah mengerti. Hidup ini tidak pasti. Banyak kejutan di dalamnya. Kamu tidak hanya mengetahuinya, tetapi juga memahaminya. Pergilah, kamu sudah lulus! Kamu sudah lulus sebagai muridku!”

Pelajaran apa yang anda dapatkan dari kisah tersebut? Bukan, bukan tentang ketidakpastian hidup. Cerita ini memang mengandung makna bahwa hidup ini tidak pasti dan penuh dengan kejutan, tetapi bukan pelajaran itu yang ingin saya sampaikan. Saya ingin menyampaikan bahwa seringkali persepsi kita dengan kenyataan kita berbeda! Seperti kisah tadi. Kenyataannya, sang guru ingin menguji pemahaman murid-muridnya mengenai kehidupan dengan sebuah tamparan. Namun keempat murid memiliki persepsinya masing-masing. Mereka memiliki pemaknaan dan penilaian masing-masin terhadap tamparan sang guru tersebut. Ada yang memersepsikannya secara negatif sehingga menyimpan rasa kecewa yang mendalam atau meledak-ledakannya. Ada juga yang memersepsikannya secara positif sehingga perasaannya sama sekali tidak terganggu oleh tamparan tersebut, bahkan sampai ada yang tertawa sampai puas. Begitulah hubungan antara persepsi dan kenyataan. Seringkali berbeda, dan respon emosi kita bisa positif maupun negatif.

Dalam kehidupan sehari-hari, seberapa sering kita memunculkan emosi yang negatif di dalam diri kita? Kemacetan di ibukota yang begitu melelahkan, atasan yang begitu merepotkan, bawahan yang begitu lamban dalam bekerja… semua seakan memicu emosi negatif dalam diri kita. Padahal, jika kita mau membingkai ulang peristiwa-peristiwa tersebut, kita bisa mendapatkan makna yang baru dan emosi yang lebih positif, sehingga hidup kita akan terasa lebih menyenangkan. Melalui reframing, kita dapat mengubah emosi negatif menjadi emosi yang positif. Bukankah dengan macet, anda memiliki waktu untuk mendengarkan musik-musik kesukaan anda melalui CD player di dalam mobil anda? Anda tidak suka jika atasan anda terlalu keras, bukankah dengan itu artinya atasan anda memerhatikan kinerja anda dan ingin anda menjadi karyawan berprestasi? Bukankah jika masakan yang anda pesan datang lama, itu artinya makanan di restoran ini enak dan memuaskan sehingga banyak yang memesan? Bukankah jika anda sakit, itu artinya tubuh anda sedang mengatakan kepada anda bahwa ada bagian tubuh anda yang sedang tidak beres? Itulah reframing. Kita membingkai ulang sebuah peristiwa dengan bingkai yang lain agar kita bisa memahami makna positif dari peristiwa tersebut. Contoh mengenai reframing terdapat dalam kisah dari negeri tirai bambu berikut ini:

Suatu hari hiduplah seorang petani di sebuah desa yang miskin. Ia hidup dari bertani dengan bantuan seekor kuda miliknya. Kuda tersebutlah yang membantu ia dalam bekerja dan menghidup diri. Suatu hari, kuda tersebut melarikan diri. Orang-orang di desa tersebut mengatakan bahwa si petani tertimpa sial, tapi sang petani hanya berkata, “Mungkin.”

Beberapa hari kemudian, kuda si petani tua tersebut kembali lagi, bersama dengan dua ekor kuda liar lainnya. Orang-orang di desa tersebut mengatakan bahwa si petani tertimpa rezeki nomplok, sang petani hanya berkata, “Mungkin.”

Keesokan harinya, anak laki-laki tunggal dari si petani tua mencoba untuk mengendarai kuda liar tersebut. Karena kaget dan tidak terbiasa dengan sentuhan manusia, kuda tersebut menendang sang anak laki-laki. Kaki sang anak laki-laki tersebut patah. Orang-orang di desa tersebut kembali bersimpati atas kesialan si petani, tetapi ia hanya berkata, “Mungkin.”

Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pegawai pemerintahan ke desa tersebut membawa kabar bahwa semua anak laki-laki di desa tersebut harus bergabung ke dalam militer dan ikut berperang. Semua orang tua harus menanggung rasa sedih yang mendalam karena harus berpisah dengan anak laki-lakinya yang belum tentu akan kembali lagi. Tetapi anak laki-laki dari si petani tua ditolak oleh militer karena mengalami patah kaki. Semua orang di desa mengatakan bahwa si petani sungguh-sungguh beruntung karena tidak perlu berpisah dengan anak laki-lakinya. Petani tersebut hanya kembali berkata, “Mungkin.”

Jadi, sebenarnya si petani tersebut sial atau beruntung? Kehilangan kuda, sial atau beruntung? Mendapatkan dua ekor kuda liar secara gratis, sial atau beruntung? Anak laki-laki semata wayang mengalami patah kaki, sial atau beruntung? Jika hal tersebut (amit-amit) terjadi pada kita, bagaimana kita akan meresponnya?

Semua bergantung pada konteks, bukan? Sang petani tua kehilangan seekor kuda yang sangat berharga baginya, bagi orang-orang mungkin kejadian tersebut adalah kesialan… tapi apakah akan tetap menjadi sial jika ternyata kuda tersebut kembali dengan dua kuda tambahan? Bagi orang-orang mendapatkan dua ekor kuda secara gratis adalah keberuntungan, tapi apakah akan tetap menjadi keberuntungan jika ternyata kuda tersebut menendang anak laki-laki si petani tua hingga kakinya patah? Dan, bagi orang-orang, mendapati anak laki-laki dengan kondisi cacat fisik merupakan sebuah kesialan, tetapi akankah tetap dikatakan sial jika ternyata pada saat itu semua anak laki-laki yang sehat dan normal harus ikut dalam peperangan?

”Saya tidak suka kalau pacar saya tidak memberi kabar kepada saya!” Bukankah itu artinya, pacar anda sedang menyelesaikan urusan-urusannya agar nanti ia bisa bertemu dengan anda tanpa harus terganggu urusan lain?

”Saya benar-benar tidak suka dengan adik saya. Ia terlalu banyak ikut campur dengan urusan saya!” Bukankah itu berarti adik anda perhatian dan peduli terhadap anda?

”Saya pusing sekali dengan atasan saya, ia selalu menelepon saya di malam hari untuk urusan pekerjaan, padahal saya ingin istirahat!” Bukankah itu artinya atasan anda memercayai diri anda, dan anda berpeluang untuk menjadi karyawan berprestasi?

“Saya kesal sekali dengan bawahan saya, kalau kerja lama sekali selesainya!” Itu berarti dia tekun dan cermat dalam mengerjakan tugas itu kan?

Agar anda lebih mantap lagi dalam melakukan reframing, silakan buat reframing dari kondisi-kondisi berikut ini, ibaratkan bahwa ”saya” dalam contoh-contoh di bawah ini adalah anda, dan anda akan melakukan reframing kepada diri anda sendiri untuk mengubah emosi negatif tersebut menjadi emosi positif:

(1) Saya selalu kesel deh kalau lihat si Banu malas-malasan di depan meja kerjanya.

(2) Saya gak suka dengan anak saya yang terlalu sering pergi bersama teman-temannya!

(3) Saya selalu marah jika pesawat delay lagi.

(4) Sikap Andi yang terlalu cuek benar-benar membuat saya marah!

Ingatlah bahwa pada prinsipnya, semua memiliki maksud yang positif. Sehingga reframing yang kita lakukan tentu dari bingkai yang positif. Sampai di sini, kita sudah memelajari reframing untuk mengubah emosi negatif menjadi emosi positif. Agar lebih mantap lagi, anda bisa mempraktekannya kepada diri anda setiap hari ketika anda menemui kesulitan-kesulitan. Anda juga bisa menerapkannya kepada teman anda yang sedang mengeluhkan masalahnya. Dengan membantu sesama, pahalakita  anda bertambah banyak, bukan? ;)

Lalu bagaimana menerapkan reframing untuk mengubah perilaku? Sebagai sebuah kesatuan, tubuh kita sebenarnya terdiri dari bagian-bagian yang memiliki perannya masing-masing. Bagian-bagian ini memiliki tujuan yang positif, tetapi dalam pelaksanaannya tidak selalu positif sehingga menimbulkan perilaku yang negatif. Jika perilaku yang muncul positif, tentu kita tidak akan merasa dirugikan; tetapi bagaimana jika perilakunya negatif?

Sebagai sebuah kesatuan, tubuh kita sebenarnya terdiri dari bagian-bagian yang memiliki perannya masing-masing. Bagian-bagian ini memiliki tujuan yang positif, tetapi dalam pelaksanaannya tidak selalu positif sehingga menimbulkan perilaku atau emosi yang negatif.

Masing-masing bagian dalam tubuh memiliki perannya masing-masing, dengan tujuan yang positif bagi diri kita. Hanya saja, pelaksanaan dari tujuan tersebut seringkali dengan cara yang negatif sehingga menimbulkan perilaku yang negatif juga. Sebagai contoh, mari kita lihat seorang pemabuk. Ia gemar sekali meminum minuman keras secara berlebihan hingga mabuk. Apakah perilaku tersebut positif? Tentu saja tidak. Meminum minuman keras secara berlebihan dapat merusak kesadaran dan juga fisik kita. Tetapi mari kita lihat tujuan di balik perilaku minum berlebihan tersebut; mungkinkah ia sedang gelisah karena keluarganya yang sedang tidak harmonis? Ia sedang tertekan karena masalah ekonomi? Untuk menekan perasaan-perasaan negatif tersebut, ia meminum minuman keras untuk mengalihkan fokus perasaan-perasaan negatif tersebut. Apa tujuannya baik? Ya, untuk menekan rasa gelisah dan tertekan. Tetapi apa caranya baik? Tidak, karena meminum minuman keras dapat merusak kesadaran dan fisik.

Dengan teknik reframing, perilaku tersebut dapat kita ubah. Secara prinsip, kita harus mengetahui maksud positif dari perilaku tersebut, kemudian kita cari perilaku-perilaku alternatif yang memiliki tujuan positif yang sama dengan perilaku yang ingin kita ubah. Bagaimana jika tidak ada maksud atau tujuan positif yang ditemukan? Pasti ada. Tanyakan kembali hingga anda menemukan makna atau tujuan positif di balik perilaku yang ingin diubah tersebut.

Berdasarkan prinsip reframing, dalam NLP dikenal tools yang bernama six steps reframing yang diperkenalkan oleh Bandler dan Grinder. Sesuai namanya, teknik ini terdiri dari enam langkah, yaitu:

(1) Identifikasi perilaku yang ingin diubah

(2) Panggil bagian yang bertanggung jawab terhadap perilaku yang ingin diubah, misalnya X.

(3) Tanyakan kepada bagian X, apa tujuan dari perilaku tersebut? (tujuan tersebut harus positif)

(4) Kemudian panggil bagian kreatif dalam diri, misalkan Y. Minta Y untuk memberikan perilaku alternatif yang lebih efektif dari perilaku sebelumnya, dengan tujuan yang sama. (Y bisa memberikan lebih dari satu alternatif).

(5) Tanyakan kepada X, apakah ia mau mengganti perilaku yang lama dengan perilaku yang ditawarkan oleh Y? (Jika ada lebih dari satu alternatif yang ditawarkan oleh Y, mintalah X untuk memilih satu perilaku)

(6) Cek ekologis. Tanyakan kepada bagian tubuh yang lain, apakah perilaku yang baru itu akan mengganggu fungsi bagian tubuh yang lainnya?

Keenam langkah tersebut dilakukan dengan kondisi yang rileks, agar bagian-bagian tubuh yang bekerja secara bawah sadar tersebut dapat berkomunikasi dengan baik kepada kita. Karena bekerja secara bawah sadar, bagian-bagian tersebut tidak langsung berkata ”ya” atau ”tidak” kepada kita. Kita harus peka terhadap sinyal-sinyal bawah sadar tersebut, dan jawaban ”ya” atau ”tidak” akan diberikan melalui sinyal-sinyal tubuh. Agar kita bisa mendapatkan jawaban yang lebih jelas dari sinyal-sinyal tersebut, lakukan perjanjian dengan bagian tersebut. Misalnya sinyal yang kita dapatkan adalah jantung yang berdetak lebih cepat; lakukan perjanjian dengan bagian tersebut, jika ”ya” maka jantung berdetak lebih cepat, jika ”tidak” maka jantung berdetak lebih pelan. Sinyal yang diberikan tubuh berbeda-beda, bisa saja bukan detak jantung, melainkan kedutan pada mata, nafas yang lebih berat, dan lain-lain. Atau bisa saja tiba-tiba jawaban tersebut muncul di kepala anda, seperti intuisi. Agar lebih mudah, bisa mempraktikannya sekarang

Pertama-tama, anda tentukan dulu perilaku yang ingin anda ubah (tahap 1). Silakan pilih perilaku yang kurang atau tidak bermanfaat bagi anda. Jika sudah, silakan anda duduk dengan rileks. Pilih posisi yang paling membuat anda nyaman dan rileks. Santai saja. Pastikan tubuh anda benar-benar nyaman dan siap untuk melakukan six steps reframing. Jika sudah, tarik nafas panjang… hembuskan… tarik lagi… hembuskan… ya, anda merasa rileks yang sangat dalam. Baik, mari kita mulai. Katakan kalimat-kalimat yang berada di antara tanda kutip (”…”) kepada diri anda sendiri, dalam kondisi yang nyaman dan tenang. Kalimat tersebut tidak harus sama persis, anda boleh menyesuaikan kata-kata di dalam kalimat tersebut sesuai dengan kenyamanan anda, selama tidak mengubah maksud dari kalimat tersebut.

Kita anggap perilaku yang ingin anda ubah dengan X

”Bagian tubuhku yang mengatur X, saya ingin berbicara dengan anda, bolehkah anda hadir sekarang?” (tahap 2)

Tujuan dari kalimat ini adalah untuk memanggil bagian dari tubuh anda yang berhubungan dengan perilaku tersebut. Amati sensasi-sensasi atau sinyal-sinyal yang muncul saat anda menanyakan ini. Jika bagian tersebut sudah bersedia hadir, mari lanjutkan ke paragraf berikut.

”Baiklah bagian yang mengatur X, terima kasih anda sudah bersedia hadir. Saya ingin tahu, apa maksud positif dari perilaku ini?” (tahap 3)

Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui tujuan positif dari perilaku X. Seperti yang sudah kita bahas, bagian-bagian tubuh kita sebenarnya memiliki maksud yang positif, hanya saja penerapannya tidak selalu positif. Jika bagian X sudah bersedia menginformasikan maksud positifnya, katakan terima kasih kepada bagian X.

”Sekarang saya ingin berbicara dengan bagian kreatif di dalam tubuh saya. Bagian kreatif, saya minta anda untuk muncul ke ruangan ini.” (tahap 4)

Kemudian rasakan sensasi-sensasi atau sinyal-sinyal yang muncul. Sensasi dan sinyal tersebut bisa saja berbeda dengan perilaku X. Jika bagian kreatif sudah bersedia hadir, ucapkan terima kasih dan lanjutkan ke paragraf berikut.

”Bagian kreatif, saya meminta anda memberikan alternatif perilaku lainnya untuk mengganti perilaku X.” (tahap 4)

Tanyakan sampai muncul alternatif perilaku. Ingatlah untuk mengucapkan terima kasih kepada bagian kreatif.

”Baiklah, sekarang saya ingin berbicara kembali dengan bagian X. Bagian X, bagian kreatif menyarankan (perilaku alternatif), apakah anda bersedia untuk mengganti perilaku X dengan perilaku yang baru?” (tahap 5)

Kemudian rasakan kembali sensasi maupun sinyal yang muncul. Jika bagian kreatif memberikan lebih dari 1 alternatif, minta bagian X untuk memilih satu perilaku.

”Baiklah, sekarang perilaku X sudah diganti dengan (perilaku alternatif). Mulai hari ini jika saya (tujuan positif dari bagian tersebut) maka saya melakukan (perilaku alternatif) Saya ingin bertanya kepada seluruh bagian di dalam tubuh saya, apakah ada yang keberatan dengan perilaku baru tersebut?” (tahap 6)

Cek ekologis. Jika semua bagian setuju dengan perilaku baru tersebut, maka six steps reframing anda sudah hampir selesai. Jika masih ada yang tidak setuju, kembali ke tahap kedua, yaitu menanyakan kepada bagian yang bersangkutan mengenai tujuan dari perilaku tersebut.

Selamat! Anda baru saja melakukan six steps reframing. Teknik ini dapat digunakan untuk mengubah mindset maupun perilaku yang ingin anda ubah. Ingatlah untuk memantau perubahan yang dihasilkan oleh teknik ini, anda dapat mengulang teknik ini jika perilaku yang ingin diubah masih muncul.

Six steps reframing juga dapat dilakukan kepada orang lain, tetapi tentunya jika kita sudah memiliki kompetensi untuk melakukan teknik tersebut kepada orang lain. Kasus yang bisa dijadikan contoh adalah contoh kasus mengenai AW. AW mengeluhkan bahwa ia sangat sering melakukan masturbasi. Setiap hari ia pasti bermasturbasi, dan dalam sehari dapat lebih dari sekali. Ia bisa melakukan masturbasi di mana saja; di sekolah, di kantor, di rumah, di toilet mall, di toilet bandara, di mana saja tempat ia berada dan ia ingin melakukannya. Saya memintanya untuk duduk rileks sampai ia merasa benar-benar santai, kemudian saya berkomunikasi secara verbal dengannya.

S          : Oke, apakah anda sudah merasa benar-benar rileks?

AW      :  (mengangguk pelan)

Nah dari responnya, saya dapat mengetahui bahwa ia sudah rileks dan nyaman. Ia mengangguk pelan, menandakan bahwa ia sudah merasa sangat nyaman dan rileks, sehingga malas untuk menggerakan anggota-anggota tubuhnya. Jika anda bisa melakukan hipnosis, anda bisa memberikan sugesti rileks terlebih dahulu. Dalam kasus AW, saya sudah menginduksi AW sampai masuk dalam keadaan trance, dan saya sudah memasang ideomotor response untuk berkomunikasi dengan AW. Jika anda belum mengetahui trance dan ideomotor response, tidak masalah. Saya sudah melakukan sedikit suntingan agar hasil dialog saya dengan AW dapat dibaca oleh orang awam secara lebih mudah. Ideomotor response yang dihasilkan sudah saya ganti langsung dengan kata “ya”, “tidak”, “boleh”, “tidak boleh”.

S      :   Oke, AW. Jadi tadi anda mengeluhkan perilaku masturbasi anda yang berlebihan, benar?

AW  :   (mengangguk pelan)

S      :   Baiklah, sekarang saya ingin berbicara dengan bagian diri anda yang berhubungan dengan perilaku tersebut. Apakah saya boleh memintanya untuk hadir sekarang?

AW  :   Boleh.

S      :   Panggilkan ia sekarang. Beri tahu saya jika sudah.

AW  :   Sudah.

S      :  Baik. Sekarang, apakah saya sudah berbicara dengan bagian diri AW yang berhubungan dengan perilaku masturbasi?

AW  :   Ya.

S      :   Baik, boleh saya sebut kamu sebagai si kepingin?

AW  :   Ya.

Di sini, saya melakukan tahap pertama dari six steps reframing. Saya juga memberikan nama kepada perilaku tersebut, tujuannya agar baik saya dan klien dapat dengan mudah berkomunikasi dengannya.

S      :   Si kepingin, apa tujuan kamu membuat AW melakukan masturbasi?

AW  :   (terdiam cukup lama)

S      :   Oke, kepingin, apa yang ingin kamu beritahu dari perilaku masturbasi?

AW  :   (terdiam sebentar) Iseng aja.

S      :   Kenapa iseng?

AW  :   Bosan.

S      :   Apa hubungan bosan dengan masturbasi?

AW  :   Daripada bosan, mendingan masturbasi.

Sampai di sini, kita dapat mengetahui bahwa tujuan positif dari bagian si kepingin adalah agar AW tidak merasa bosan. Sehingga si kepingin menimbulkan AW melakukan perilaku masturbasi. Tujuannya agar AW tidak merasa bosan. Tujuan yang positif, bukan? Hanya saja, cara untuk mencapai tujuan tersebut yang negatif.

S      :   Baik. Jadi si kepingin ingin menjaga AW agar tidak bosan. Tujuan yang positif. Sekarang, bolehkah saya berbicara dengan bagian kreatif dari dalam diri anda?

AW  :   Boleh.

S      :   Tolong panggilkan dia.

AW  :   (diam beberapa saat) Sudah.

S      :   Oke, bagian kreatif. Apa saat ini saya sedang berkomunikasi dengan anda?

AW  :   Ya.

S      :   Oke, jadi si kepingin ingin membuat AW tidak merasa bosan dengan membuat AW bermasturbasi. Tujuan yang positif, tetapi perilakunya kurang efektif. Bagian kreatif dalam diri AW, bisakah anda memberikan alternatif dari perilaku tersebut?

AW  :   (terdiam)

S      :   Oke, jadi, bagian kreatif. Jika AW bosan, AW bermasturbasi. Bisakah bagian kreatif memberikan ide perilaku selain masturbasi yang lebih efektif jika AW sedang bosan?

AW  :   Bisa.

S      :   Boleh saya tahu perilaku tersebut?

AW  :   Ngobrol.

S      :   Oke, ngobrol. Ngobrol dengan siapa?

AW  :   Dengan teman-teman.

S      :   Baik, jadi bagian kreatif menyarankan, jika AW bosan, lebih baik ngobrol saja ya.

AW  :   Ya.

Sampai di sini, saya sudah mencapai tahap ketiga dan keempat, yaitu memanggil bagian kreatif dan memintanya untuk memberikan perilaku yang lebih efektif. Dalam kasus ini, ngobrol.

S      :   Oke, sekarang saya ingin berbicara dengan si kepingin. Tolong panggilkan si kepingin kembali.

AW  :   Sudah.

S      :   Kepingin, tadi saya sudah berbicara dengan bagian kreatif dari dalam diri AW, dan bagian kreatif tersebut menyarankan, jika AW bosan, perilaku masturbasi diganti dengan ngobrol saja. Gimana kepingin, apakah kamu bersedia mengganti perilaku masturbasi dengan perilaku ngobrol saat bosan?

AW  :   Ya.

S      :   Baik, jadi kepingin, mulai saat ini, setiap AW merasa bosan, anda dapat membuat AW untuk ngobrol saja.

AW  :   Baik.

Bagian yang membuat AW melakukan masturbasi sudah setuju dengan perilaku baru, yaitu ngobrol. Ini adalah tahap kelima. Sekarang, saya akan memasuki tahap keenam yaitu cek ekologis.

S      :   Oke, jadi saat ini kepingin sudah bersedia jika AW bosan, AW akan mengobrol. Sekarang, apakah ada bagian dari tubuh AW yang merasa terganggu jika AW mengobrol di saat bosan?

AW  :   (diam cukup lama) Lagi kerja.

S      :   Bisa dijelaskan?

AW  :   Lagi kerja, gak bisa ngobrol.

Nah di sini, ternyata ada bagian lain yang keberatan dengan perilaku mengobrol, yaitu bagian diri AW ketika AW sedang bekerja. Jika terjadi demikian, minta bagian kreatif untuk memberikan alternatif perilaku lain ketika AW sedang bekerja. Kemudian cek ekologis kembali.

S      :   Oh… kalau begitu, bagian kreatif, bisa anda berikan tawaran jika AW sedang bosan padahal ia sedang bekerja?

AW  :   Kerjain dulu sampai selesai.

S      :   Oke, jadi kalau sedang bosan dan sedang bekerja, lebih baik tetap mengerjakan dulu sampai selesai, begitu?

AW  :   Ya.

S      :   Setelah selesai, baru mengobrol atau chatting dengan teman-teman, begitu?

AW  :   Ya.

S      :   Baik, jadi AW, kamu sudah mendapatkan perilaku yang baru ketika kamu sedang bosan dan sedang bekerja. Apa ada bagian lain yang terganggu dengan perilaku ini?

AW  :   Tidak ada.

S      :   Baik, jadi AW, mulai dari saat ini dan seterusnya, jika kamu bosan, maka kamu dapat mengobrol, baik secara langsung atau chatting. Jika kamu sedang bekerja, maka kamu selesaikan dulu pekerjaan kamu baru mengobrol, begitu?

AW  :   Ya.

S      :   Apakah ada bagian dari diri AW yang keberatan dengan perilaku ini?

AW  :   Tidak ada.

Selesai! Untuk kasus AW, terapis memang menggabungkannya dengan beberapa teknik di dalam hipnosis seperti induksi ke dalam trance dan ideomotor response. Perlu diingat bahwa melakukan teknik ini kepada orang lain harus diikuti dengan kompetensi dan rasa tanggung jawab. Saya sendiri lebih menyarankan jika teknik six steps reframing kita praktikkan kepada diri kita masing-masing untuk mengembangkan diri kita.

Lalu, apakah reframing juga dapat digunakan untuk berhenti merokok atau menurunkan berat badan? Bisa! Di bawah ini adalah contoh penerapan six steps reframing untuk menghentikan perilaku merokok. Pertama-tama, duduk dengan nyaman, tarik hembusan nafas yang dalam dan dikeluarkan. Ulangi sampai nyaman.

Tahap 1: Menentukan perilaku yang ingin dihilangkan/diubah.

”Saya ingin menghilangkan perilaku merokok saya.”

Tahap 2: Memanggil bagian yang berhubungan dengan perilaku merokok.

”Bagian dalam tubuh saya yang berhubungan dengan perilaku merokok, saya minta anda hadir untuk berkomunikasi secara sadar dengan saya.” Amati sinyal yang muncul. Ucapkan terima kasih kepada bagian tersebut jika sudah bersedia hadir.

Tahap 3: Menanyakan maksud positif dari perilaku merokok.

”Apa tujuan anda dengan perilaku merokok?” Ucapkan terima kasih jika ia sudah memberitahu tujuannya. Misalnya tujuan positif dari merokok adalah untuk menghilangkan stres.

Tahap 4: Meminta alternatif dari bagian kreatif.

”Bagian kreatif, saya minta anda hadir untuk berkomunikasi secara sadar dengan saya.” Tunggu sampai bagian kreatif memberikan sinyal bahwa ia bersedia untuk muncul, kemudian mintalah alternatif darinya.

”Saya minta anda memberikan perilaku alternatif yang positif untuk menggantikan perilaku merokok yang muncul saat saya sedang stres.”

Jika bagian kreatif sudah memberikan alternatif, ucapkan terima kasih dan kita lanjut ke tahap 5. Kita anggap alternatif yang diberikan ada dua, yaitu meditasi dan mengunyah permen karet.

Tahap 5: Meminta bagian merokok untuk mengambil solusi dari bagian kreatif.

”Bagian yang berhubungan dengan perilaku merokok, bagian kreatif memberikan dua saran jika saya sedang stres, yaitu meditasi dan mengunyah permen karet. Pilih satu saja perilaku yang ingin anda ambil untuk menggantikan perilaku sebelumnya.” Jawaban akan muncul melalui sinyal-sinyal tubuh, maka itu amati. Anggap mengunyah permen karet yang dipilih.

Tahap 6: Cek ekologis

”Baik, jadi mulai dari saat ini, jika saya stres, maka saya akan mengunyah permen karet. Apa ada bagian lain yang keberatan dengan perilaku ini?” Jika ada yang keberatan dengan perilaku tersebut, maka anda harus kembali ke tahap 2 untuk mencari tahu maksud positif dari keberatan tersebut.

Demikianlah contoh penerapan six steps reframing untuk merokok. Bagaimana dengan menurunkan berat badan? Secara prinsip, berat badan berlebihan disebabkan oleh nafsu makan yang sangat besar, makan yang terlalu cepat sehingga tidak mengunyah dengan benar, terlalu banyak mengemil, dan sebagainya. Maka perilaku tersebutlah yang akan kita ubah dengan six steps reframing. Tanyakan maksud positif dari perilaku tersebut, kemudian minta bagian kreatif untuk memberikan perilaku alternatif yang positif. Selamat mencoba!

Demikianlah artikel saya mengenai reframing. Semoga dapat anda terapkan dalam diri anda masing-masing sehingga hidup anda akan terasa lebih menyenangkan dan berdaya. Salam bahagia!

Referensi:
Wiwoho, R. H. (2004). Reframing (edisi revisi). Jakarta: IndoNLP

4 responses to “Reframing, Seni Mengubah Perilaku dan Emosi Negatif

  1. Wow…ini luar biasa…ini adalah inti dan informasi pembelajaran mengenai “Reframing” yang termasuk kategori yang sangat lengkap , dan mendetail. Sangat jarang anda bisa mendapatkannya di blog-blog bebas seperti blog satu ini. Kecuali di pelatihan yang bisa bernilai belasan juta tentunya. Karena itu saya ucapkan CONGRATULATIONS !! untuk mereka yang sudah memutuskan membaca artikel di atas sampai selesai.

    Reframing itu sendiri pun sering kita lakukan setiap harinya dalam hidup kita , entah itu bersifat negatif ataupun positif. Namun saya selalu yakin apa yang setiap orang lakukan , walaupun tampak “negatif” namun selalu memiliki inti yang positif untuk kelangsungan hidupnya apapun alasannya tersebut. Contohnya , misalnya ketika ditolak pacaran (Hehehe) ada saja orang yang berpikir “Wah dia bukan jodohku kalau gitu , berarti masih ada wanita yang lebih cantik diluar sana yang akan menjadi Jodohku” , atau mungkin ada yang punya cerita lain? Ayo di Share. :-)

    Penggunaan Reframing yang tepat dalam kehidupan kita sehari-hari , terutama ketika mengalami hambatan hidup. Justru membuat kita semakin tertantang menghadapi dan menyelesaikannya , ketimbang hanya berdiam diri atau kabur dari masalah. Hal ini membuat anda menjadi lebih sigap dalam menghadapi segala masalah , dan telah memiliki pengalaman-pengalaman sebelumnya yang bisa anda pakai untuk dapat mengatasi setiap permasalahan baru yang akan anda alami. Entah bagaimana , kapan , atau dimana anda menggunakan Reframing tersebut. Selama feel anda merasa “This is the Time” , segera gunakan Reframing. Dan rasakan bahwa energi positif mengalir di dalam diri anda dan siap untuk take Action. Ada juga yang mengatakan This is The Time is “NOW” , jadi tunggu apa lagi? :-)

    Salam Penuh Semangat,
    Yanto
    http://www.yantotjia.com

    • Terima kasih atas komentarnya Mas Yanto :D .

      Memang reframing ini teknik yg simpel tapi elegan untuk mengubah mindset.

      Sama seperti sekarang, saat saya harus kehilangan income tetap (karena murid les saya akan pindah ke luar negri untuk melanjutkan studi), saya malah berpikir seperti ini: “berarti sudah saatnya saya mencoba usaha sendiri, mumpung masih muda dan masih banyak kesempatan.”

      Silakan pembaca yg lain kalau punya pengalaman dengan reframing, bagi pengalaman tersebut di sini :)

  2. Hebat, seni mengubah makna. Dan teknik ini benar-benar bekerja untuk saya.

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s