7 Mitos dalam Hipnosis

Meskipun penjelasan-penjelasan ilmiah dalam fenomena hipnosis sudah terpublikasi dalam berbagai media, masih saja ada anggapan-anggapan bahwa hipnosis adalah sesuatu yang mistik dan berbahaya. Hal ini ditambah dengan banyaknya tayangan-tayangan di televisi yang mengatasnamakan hipnosis dan menampilkan ketidakberdayaan orang ketika terhipnosis, sehingga menyebabkan kesalahpahaman terhadap hipnosis semakin kuat.

Berikut ini adalah 7 mitos dalam hipnosis yang coba saya ‘luruskan’:

Mitos 1: Hipnosis adalah sesuatu yang supranatural.

Fakta: Hipnosis bukanlah sesuatu yang supranatural atau di luar batas manusia. Proses induksi (membimbing seseorang ke dalam kondisi hipnosis) dapat dijelaskan dan diterima oleh ilmu pengetahuan. Selain itu, keadaan hipnosis sebenarnya adalah alamiah. Kita seringkali mengalami auto-hipnosis tanpa kita sadari, misalnya ketika kita sedang asik sekali dengan pertandingan sepakbola kesukaan kita. Kondisi hipnosis adalah kondisi terfokus dalam 1 hal saja, dalam contoh di atas adalah pertandingan sepakbola.

Mitos 2: Orang yang dapat terhipnosis adalah orang yang bodoh

Fakta: Setiap orang dapat mengalami kondisi hipnosis, terlepas dari tingkat inteligensi seseorang! Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kondisi hipnosis adalah kondisi ilmiah. Lagipula kondisi hipnosis adalah kondisi terfokus atau terpusat pada satu hal, sehingga jika ada orang yang mudah masuk ke dalam kondisi hipnosis, sebenarnya ia adalah orang yang fokus.

Mitos 3: Jika terhipnosis, ada kemungkinan tidak bisa bangun lagi

Fakta: Hipnosis adalah kondisi alami dan dalam keadaan hipnosis, kita bisa mengendalikan diri kita sendiri. Jika hipnotis (orang yang menghipnosis kita) berhenti memberikan instruksi dan meninggalkan kita dalam kondisi hipnosis, maka diri kita memiliki 2 alternatif: (1) dilanjutkan menjadi tidur lalu nanti bangun lagi, atau (2) langsung bangun dari kondisi hipnosis.

Mitos 4: Hipnosis dapat digunakan untuk mengendalikan orang sesuka hati

Fakta: Jangan terpengaruh oleh tayangan TV yang bertujuan sebagai hiburan! Pada saat kita masuk ke dalam kondisi hipnosis, kita tidak sedang kehilangan kendali atas diri kita, melainkan sedang berada dalam kondisi relaksasi yang sangat dalam. Dalam kondisi relaksasi ini, kita menjadi sangat sugestif tetapi jika perintah dari sang hipnotis bertentangan dengan nilai-nilai di dalam diri kita, maka kita dapat menolaknya. Hipnosis sejatinya adalah ‘persetujuan diri sendiri’.

Mitos 5: Hipnosis dapat digunakan untuk membongkar rahasia seseorang

Fakta: Saya ulangi, jangan terpengaruh oleh tayangan TV! Jika sang hipnotis meminta kita untuk membongkar suatu rahasia yang bertentangan dengan nilai-nilai diri kita, maka diri kita tetap dapat menjaga rahasia tersebut. Responnya ada dua, yaitu (1) fight, yaitu ‘menghadapi’ permintaan tersebut dengan berbohong, atau (2) flight, yaitu diam atau memunculkan respon lain. Lagipula, jika hipnosis dapat digunakan untuk membongkar rahasia, maka seharusnya hipnosis sudah menjadi metode yang amat dahsyat untuk menginterogasi para tersangka korupsi dan terorisme.

Mitos 6: Hipnosis berarti kehilangan kesadaran

Fakta: Dalam kondisi terhipnosis, anda masih dapat mengendalikan diri anda. Critical area (bagian pikiran yang berfungsi untuk menyaring informasi) masih bekerja dan dapat membedakan hal-hal yang sesuai dan bertentangan dengan nilai diri. Justru dalam kondisi terhipnosis, kesadaran kita menjadi lebih kuat daripada dalam kondisi bangun (waking).

Mitos 7: Hipnosis adalah bakat

Fakta: Seperti yang sudah saya tuliskan, hipnosis adalah peristiwa alami dalam keseharian kita, sehingga tidak diperlukan bakat khusus untuk memelajari hipnosis. Hanya saja untuk memelajari hipnosis disarankan untuk memiliki instruktur atau mentor agar dapat terarah dengan lebih jelas. Siapa saja bisa memelajari hipnosis, selama ia tidak memiliki gangguan dalam berkomunikasi.

Lalu Bagaimana dengan Kejahatan dengan Hipnosis?

Individu tidak akan dapat terhipnosis jika ia tidak bersedia untuk dihipnosis. Ada dua kemungkinan jika terjadi kasus kejahatan atas nama hipnosis:

(1) Individu terjebak dengan ‘tawaran menggiurkan’ sang penjahat sehingga bersedia mengikuti mau sang penjahat.

Biasanya korban diiming-imingi hadiah uang berpuluh-puluh juta, hadiah spektakuler, dan sebagainya. Pada saat korban masih tertakjub-takjub dengan ‘keberuntungannya’, penjahat akan langsung menginstruksikan kita untuk mentransfer sejumlah uang ‘pajak hadiah’. Kita yang pada saat itu masih terlena dengan ‘keberuntungan’ tentu akan manggut-manggut saja ketika diminta melakukan hal apapun.

Untuk mencegahnya: jangan serakah! Pepatah mengatakan, if it’s too good to be true, then it’s not true. Jangan mudah terlena dengan iming-iming atau bujuk rayu yang terkesan tidak masuk akal. Gunakan akal sehat. Jangan sampai terjerat dalam godaan sang penjahat.

(2) Korban sebenarnya ditipu, tapi karena malu, mengaku dihipnosis.

Karena malu, korban pun mencari dalih lain agar tidak dicap bodoh dengan mengatakan dihipnosis. Korban akan merasa ditipu secara lebih elit bila tertipu karena hipnosis. Alasan ini sebenarnya digunakan untuk menyelamatkan harga diri.

Untuk mencegahnya: jangan mudah terkecoh oleh iming-iming berlebihan!

Semoga dengan tulisan ini, anda menjadi semakin aware dengan fenomena hipnosis dan kejahatan atas nama hipnosis.

2 responses to “7 Mitos dalam Hipnosis

  1. Yup… Setuju dengan artikel ini…

    Hanya saja yang masih kadang suka diperdebatkan adalah apakah hipnosis itu ilmiah? :D

  2. Ilmiah atau gak… perlu pakar yg berkomentar nih (gw belum pakar). Tapi hipnoterapi beberapa kali pernah masuk ke jurnal-jurnal penelitian psikologi kok.

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s