Galau dan Psikologi

Kata “galau” sering sekali muncul di situs jejaring sosial, biasanya sering kita lihat di malam hari dan umumnya lebih sering digunakan untuk hal yang berhubungan dengan perasaan atau cinta. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), galau atau bergalau adalah “sibuk beramai-ramai, ramai sekali, kacau tidak keruan (pikiran).” Galau berarti keadaan yang sangat sibuk atau ramai sehingga membuat pikiran menjadi kacau tidak keruan. Sedangkan selama ini, kata “galau” sering digunakan untuk menjelaskan keadaan diri yang sedang sedih, sedang labil, atau sedang penuh pikiran. Biasanya diekspresikan dengan mengeluh atau bingung.

Dalam psikologi, kata yang padanannya dekat dengan kata “galau” mungkin adalah “cemas” (anxiety). Kecemasan muncul dari ego, tetapi melibatkan id dan/atau superego. Psikoanalisis Freud menggolongkan kecemasan/anxiety ke dalam tiga macam, yaitu: kecemasan neurotis (kecemasan akan terjadinya sesuatu yang tidak diketahui), kecemasan moral (kecemasan karena takut melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan moral), dan kecemasan realistis (kecemasan karena bahaya yang datang dari dunia luar yang mungkin terjadi).

Galau juga dapat dijelaskan melalui psikologi humanistik, yang erat kaitannya dengan kebutuhan individu. Maslow merumuskan kebutuhan dalam sebuah hirarki yang disebut sebagai hirarki kebutuhan atau hierarchy of needs. Disebut sebagai hirarki karena kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara bertahap. Hirarki kebutuhan tersebut adalah (dimulai dari tahap yang paling dasar): (1) kebutuhan fisiologis, seperti makan, minum, oksigen; (2) kebutuhan rasa aman; (3) kebutuhan cinta dan rasa memiliki; (4) kebutuhan penghargaan/esteem, dan (5) aktualisasi-diri. Seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya akan menjadi galau.

Lalu, bagaimana cara mengatasi rasa galau? Muhammad Baitul Alim (2012) menyatakan bahwa untuk mengatasi kegalauan, kita tidak cukup hanya menstabilkan diri, namun juga perlu untuk melakukan problem solving terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Rasa galau tersebut dapat diatasi dengan cara:

– Mengubah dorongan kecemasan pada bentuk perilaku lain yang lebih positif.

– Mencari sesuatu bidang yang dapat membuat diri bisa lebih berprestasi, diperhatikan, dan disukai.

– Menekan perasaan tersebut dengan alasan yang rasional dan utarakan di waktu yang tepat.

– Mencari sebab yang “masuk akal” untuk menjelaskan kenapa hal ini terjadi pada diri, hal ini dilakukan guna menghindari kecemasan tanpa alasan realistis.

– Mencoba untuk menceritakan pada orang lain perasaan dan masalah yang sedang dihadapi agar sebab dari kecemasan tersebut menjadi lebih jelas.

tulisan ini dimuat dalam Buletin Psikologi Universitas Tarumanagara edisi no. 13

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s