Mengenali Identitas Remaja

remaja

Gambar di bawah creative commons license (sumber)

Secara psikologis, masa remaja seseorang dimulai pada usia 11 sampai 20 tahun (Papalia, Olds, Feldman; 2009). Dengan ciri fisik berupa kematangan organ reproduksi. Secara kognitif, remaja sudah mampu berpikir secara abstrak dan mengembangkan pemikiran yang ilmiah. Masa ini merupakan masa-masa pencarian identitas diri seseorang, termasuk mengembangkan diri. Seorang psikolog bernama James Marcia (dalam Papalia et al., 2009) menyatakan bahwa pengembangan identitas pada remaja berdasarkan pada dua hal, yaitu krisis dan komitmen. Krisis merupakan istilah untuk menjelaskan periode dari keputusan yang berhubungan dengan pembentukan identitas, sedangkan komitmen adalah investasi pribadi dalam sebuah pilihan atau sistem kepercayaan (Papalia et al., 2009). Jika disimpulkan, krisis adalah masa remaja berpikir dalam membentuk identitasnya dan komitmen adalah keputusan yang sudah diambil.

            Berdasarkan krisis dan komitmen ini lah, Marcia (dalam Papalia et al., 2009) merumuskan 4 status identitas remaja, yang dijelaskan sebagai berikut:

1. Pencapaian Identitas/Identity Achievement

            Dalam pencapaian identitas, seorang remaja sudah mengalami krisis dan membawanya kepada komitmen. Seseorang yang berada pada pencapaian identitas sudah memikirkan secara matang identitas dan pilihan masa depannya, serta memiliki komitmen terhadap keputusannya tersebut. Contohnya, seorang remaja yang sudah mengetahui bahwa ia cocok di bidang psikologi (krisis sudah ada) dan kemudian berkuliah di jurusan psikologi serta menjalani bidang tersebut (komitmen sudah ada).

2. Foreclosure

            Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia yang saya dapat, foreclosure berarti penyitaan. Tetapi saya rasa istilah tersebut tidak sesuai dalam konteks status identitas sehingga saya tetap menggunakan istilah foreclosure dalam bahasa aslinya.

            Dalam keadaan ini, seorang remaja sudah memiliki komitmen, tetapi ia belum mengalami krisis. Jadi komitmen yang ia dapatkan bukanlah berasal dari krisis, tetapi ia dapatkan dari pilihan orang lain. Contohnya, seorang remaja yang berkuliah di bidang akuntansi (komitmen sudah ada) karena pilihan orang tuanya (krisis belum ada).

3. Moratorium

            Keadaan ini merupakan keadaan remaja yang sudah mengalami krisis tetapi belum memiliki komitmen. Sebagai contoh, seseorang remaja yang sudah ingin berpacaran (krisis sudah ada) tetapi masih belum mengembangkan hubungan yang dekat (komitmen belum ada). Seorang yang berada pada keadaan ini bisa saja mencapai keadaan pencapaian identitas jika sudah mampu berkomitmen.

4. Difusi Identitas/Identity Diffusion

            Dalam keadaan difusi identitas, seorang remaja belum memiliki krisis dan komitmen. Seorang remaja yang belum secara serius mencari dan mempertimbangkan pilihan-pilihan untuk dirinya dan menjauhi komitmen. Ia tidak yakin dengan dirinya sendiri dan cenderung tidak koperatif.

Keempat status identitas tersebut bukanlah tahapan, sehingga seorang remaja tidak harus mengalami difusi identitas dahulu baru mencapai pencapaian identitas; atau seorang remaja juga tidak harus mengalami urutan difusi identitas, moratorium atau foreclosure, baru pencapaian identitas. Tetapi seorang remaja dapat mengubah status identitasnya dari satu identitas ke identitas lainnya. Contohnya, seorang remaja yang awalnya berada moratorium jika berusaha untuk berkomitmen maka ia dapat mencapai identitasnya (pencapaian identitas).

Idealnya, keempat status identitas ini harus mampu kita pahami sebagai seorang tenaga didik/psikolog remaja/orang tua. Kita harus mampu membawa remaja kepada pencapaian identitas sehingga ia dapat menemukan jati dirinya, sesuai dengan tugas remaja yaitu mencari jati diri. Jika kita dapat mengenali sang remaja, maka kita dapat membawa mereka kepada pencapaian identitas tersebut.

Bagaimana jika remaja belum mencapai pencapaian identitas? Kita dapat membantu remaja dengan mengajaknya berdiskusi, bertukar pikiran, atau berbagi pengalaman. Jadikanlah diri kita terbuka sehingga mereka dapat bertanya mengenai hal-hal di sekitarnya dan bahkan berbagi pendapat dengan kita. Terutama jika sang remaja masih mengalami difusi identitas, kita harus memberikan perhatian kepada sang remaja tersebut agar ia dapat terbantu untuk menemukan identitasnya.

Seorang remaja agaknya selalu berusaha untuk tidak ingin dikekang dan direndahkan, karena mereka merasa sudah mampu untuk berdiri sendiri. Sejatinya, remaja memang masih bergantung kepada orang tua dalam hal finansial bahkan afeksi. Tetapi biarkan mereka menemukan kepercayaan dirinya. Berikanlah mereka ruang untuk berekspresi dan berkreasi, namun tetap dalam pengawasan kita dan bantu mereka untuk memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-tindakan yang merugikan. Biarkan mereka untuk menjadi terbuka sehingga ia dapat membuka dirinya kepada kita sehingga kita mampu membantu mereka dalam mencari identitas dirinya.

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s