Tiga Perspektif Utama dalam Psikologi

Psikologi memiliki tiga aliran atau tiga perspektif dalam memahami perilaku dan proses mental. Perspektif-perspektif ini dapat digunakan untuk menganalisa perilaku, memahami proses mental yang terjadi, dan merancang intervensi yang dibutuhkan. Ketiga perspektif berikut adalah:

(1) Psikoanalisis

Perspektif ini menekankan pengaruh bawah sadar terhadap perilaku manusia. Menurut suatu teori, 80% sikap manusia ditentukan oleh alam bawah sadarnya, sehingga alam bawah sadar manusia menjadi faktor utama yang harus diperhatikan dalam perspektif ini. Pemrakarsa dari perspektif ini adalah Sigmund Freud, seorang psikiater dari Vienna. Freud merumuskan kepribadian manusia menjadi tiga faktor, yaitu: id, ego, dan superego. Kesadaran kita saat ini adalah ego kita, sedangkan bawah sadar kita adalah id dan superego. Freud menyatakan bahwa kepribadian manusia ibarat sebuah bongkahan es di lautan, sebagian tertutup laut, sebagian muncul di permukaan. Bagian yang muncul itulah yang disebut ego, sedangkan bagian yang terendam di bawah laut itu adalah bawah sadar pikiran manusia. Teori Freud mengenai bawah sadar dan sadar masih dianut hingga sekarang, terutama oleh praktisi hipnosis.

Sigmund Freud, si pelopor psikoanalisa

Struktur kepribadian menurut Freud

Selain Freud, terdapat beberapa tokoh-tokoh berpengaruh lainnya dalam psikoanalisis. Salah satunya adalah Gustav Jung yang awalnya merupakan murid dari Freud, meskipun kemudian mereka memiliki perbedaan pendapat. Jung-lah yang merumuskan tipe kepribadian introvert dan ekstrovert. Menurut Jung, manusia mewarisi sifat-sifat dari leluhur yang disebut dengan archetype. Teori Jung kini banyak diadaptasi oleh para pewacana tarot.

Carl Gustav Jung

Tokoh-tokoh lainnya adalah Alfred Adler, Anna Freud (anak dari Sigmund Freud), Lacan, Erickson, dan lain-lain.

Intervensi dalam psikoanalisis adalah analisis mimpi, trasnference-counter transference, hipnoterapi, dan lain-lain.

(2) Behavioristik

Berbeda dengan psikoanalisis yang mengutamakan alam bawah sadar manusia yang tidak nampak, aliran behavioristik menekankan pada perilaku yang nampak dari manusia.

Tokoh behavioristik yang terkenal adalah Ivan Pavlov. Eksperimen Pavlov dengan anjing menghasilkan suatu teori belajar yang disebut dengan classical conditioning. Teori ini menyatakan bahwa suatu stimulus yang dipasangkan dengan respon tertentu akan membentuk suatu perilaku tertentu. Seekor anjing selalu dihadapkan makanan setiap bel berbunyi, sehingga air liur anjing akan menetes; maka suatu saat jika bel berbunyi kembali – meskipun tanpa dihadapkan makanan kembali – air liur anjing akan kembali menetes. Teori classical conditioning masih dianut oleh praktisi NLP meskipun sudah mengalami perkembangan dan disebut sebagai anchoring.

Ivan Pavlov, penemu classical conditioning

Skema eksperimen Pavlov terhadap anjing

Tokoh lainnya adalah B. F. Skinner. Skinner menyatakan suatu teori belajar yang disebut sebagai operant conditioning. Pembelajaran ini berkaitan dengan reinforcement atau penguatan, dan terbagi menjadi dua macam yaitu positive reinforcement dan negative reinforcement. Contoh dari positive reinforcement adalah pemberian hadiah kepada anak yang mendapat nilai bagus agar anak termotivasi untuk mendapatkan nilai bagus, sedangkan contoh negative reinforcement adalah penggunaan balsem untuk menghilangkan rasa gatal.

B. F. Skinner, penemu operant conditioning

Dalam intervensi, perspektif behavioristik menggunakan classical dan operant conditioning, flooding (meskipun sekarang sudah dianggap tidak etis), systematic desentization (terutama untuk penyembuhan fobia), cognitive behavior therapy, dan lain-lain. Perpektif behavior sering didampingkan dengan metode kognitif dalam intervensi.

(3) Humanistik

Perspektif ketiga dalam psikologi. Perspektif ini meyakini bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi dari dalam dirinya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tokoh yang paling terkenal dalam perspektif ini adalah Abraham Maslow dengan hirarki kebutuhannya (hierarchy of needs). Maslow menyatakan bahwa kebutuhan manusia tersusun dalam tingkatan-tingkatan dan setiap tingkatan harus dipenuhi terlebih dahulu baru bisa mengalami ‘naik tingkat’. Dari pemahaman hirarki ini, Maslow menyatakan bahwa perilaku manusia berasal dari usahanya dalam pemenuhan kebutuhan.

Abraham Maslow

Hirarki kebutuhan, usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebutlah yang menjadi penyebab perilaku manusia

Tokoh lainnya adalah Carl Rogers yang menemukan client centered therapy. Dalam terapi ini, diperlukan 3 hal penting yaitu (1) empati, memahami perasaan klien; (2) genuineness, sikap dari terapis yang tidak dibuat-buat atau ketulusan; dan (3) unconditional positive regards, yaitu tidak melakukan penilaian terhadap klien dan menghargai klien.

Carl Rogers

Teknik intervensi dalam perspektif humanistik adalah client centered therapy, logotherapy, dan lain-lain.

Sebenarnya ada lagi perspektif keempat, yaitu transpersonal. Tetapi perspektif ini belum terlalu berkembang (di Indonesia). Jika ada kesempatan, maka saya akan coba masukkan tulisan mengenai psikologi transpersonal.

2 responses to “Tiga Perspektif Utama dalam Psikologi

  1. untuk hal yang ini kamu ambil sumber berdasarkan apa ?

    • ini hanya rangkuman selama kuliah psikologi, Ibu Tika, jadi menggunakan berbagai sumber (seperti textbook kuliah, ceramah dosen). Tujuan dari blog ini hanya “menuang ulang” apa yg didapat di kelas supaya tidak lupa, jadi saya tidak mengikuti kaidah2 pengutipan seperti harus ada citation dan reference list Bu :)

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s