Marah Saja!

Upsss… jangan terprovokasi dulu dengan judul artikel ini. Bukan berarti saya bermaksud untuk meminta pembaca marah setiap pembaca ingin marah, bisa amburadul dong, hehehe…
Aktivitas sehari-hari yang sudah padat terkadang membuat kita begitu lelah. Dalam kondisi lelah, sedikit saja kejadian yang memprovokasi dapat membuat kita langsung meletup-letup. Misalnya, seusai pulang kerja, kita terjebak macet parah padahal perut ini sudah keroncongan. Sesampainya di rumah, istri belum masak karena ada tamu datang sore harinya, penghangat air di kamar mandi rusak, belum lagi ternyata layanan internet di rumah diputuskan karena lupa membayar tagihan, wah! Kalau tidak ditangani dengan baik, dijamin akan terjadi peristiwa sedahsyat ledakan bom di Hiroshima dan Nagasaki di rumah… Lebay? Memang. :P
Marah merupakan salah satu bentuk emosi yang dimiliki oleh manusia. Emosi bersifat netral, dapat menghancurkan maupun membangun kehidupan orang lain; sehingga perlu dikelola dengan baik. Demikian pula marah perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan, bahkan marah dapat menjadi bermanfaat jika dikelola dengan piawai. Dalam forgiveness therapy pun, mengekspresikan amarah dipersilakan namun dengan pengelolaan yang baik.
Mengelola amarah memang tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu, kesabaran, dan hati yang lapang. Tetapi ketika kita sudah mampu mengelola amarah, maka kejadian yang menyebalkan sehari-hari dapat kita manfaatkan menjadi kekuatan dan bahkan dapat menjadi warna baru dalam hidup kita.
Cara untuk mengelola amarah:
1. Sadari. Sadarilah bahwa anda sedang marah, sadarilah alasan anda marah dan sadari fenomena-fenomena batin maupun fisik yang terjadi pada diri anda ketika marah seperti jantung berdetak lebih kencang, nafas menjadi berat, hati rasanya begitu dongkol, dan lain-lain
2. Terima. Terimalah alasan yang membuat anda marah. Terimalah bahwa memang ada sesuatu yang membuat anda marah. Jangan menyangkal bahwa anda sedang marah karena itu justru membuat anda memendam-mendam perasaan anda. Memendam rasa marah dapat mengakibatkan gangguan psikologis atau parahnya gangguan fungsi tubuh seperti stroke.
3. Ekspresikan. Setelah anda marah dan menyadari serta menerimanya, carilah media untuk meluapkan emosi anda. Jangan meluapkannya dengan mendamprat orang yang bersangkutan dengan kemarahan anda atau orang-orang di sekeliling anda. Carilah media yang tidak merugikan orang lain. Misalnya ketika anda terjebak macet, daripada anda mengekspresikan amarah dengan ngedumel atau menggerutu, lebih baik anda gunakan energi anda untuk kegiatan yang bermanfaat bukan?
Dengan pandai mengelola amarah, bukannya tidak mungkin kita memanfaatkan situasi menyebalkan menjadi situasi yang netral, atau bahkan menggembirakan. Macet yang menyebalkan bisa justru bisa menjadi sarana menyegarkan diri. Jadi, marah saja, tapi dikelola ya!

One response to “Marah Saja!

  1. Wahh bagus banget artikelnya Sis..
    apalagi saya orangnya suka rada meledak-ledak kalau something went wrong :mrgreen:

    Salam kenal ya.. :razz:

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s