Introvert-Ekstrovert

Salah satu tipologi kepribadian yang cukup populer di kalangan orang awam adalah ekstrovert dan introvert. Pembaca mungkin sudah sering mendengar kedua kata tersebut dan bahkan sudah mengetahui termasuk dalam kategori yang mana. Tetapi, kurangnya informasi yang detil mengenai pembagian jenis kepribadian tersebut membuat orang sering kali memiliki makna yang kabur mengenai introvert dan ekstrovert.
            Pembagian kepribadian manusia ke dalam dua jenis ini pertama kali dilakukan oleh Gustav Jung (1875-1961). Jung (baca: yung) adalah seorang psikolog asal Swiss yang pada awalnya kagum dengan teori psikoanalisis dari Sigmund Freud, namun belakangan ia membuat teori baru yang bertentangan dengan teori dari Freud (baca: froyd). Jung menyebutkan bahwa manusia memiliki dua sikap (attitudes) dasar, yaitu ekstrovert dan introvert. Secara praktis, pengklasifikasian sikap dasar ini bisa diketahui melalui tes-tes psikologis seperti MBTI (Myers-Briggs Type Indicator), tetapi kita pun juga bisa mengetahui sikap dasar seseorang melalui pengamatan. Dalam MBTI, pengategorian ekstrovert dan introvert ini didasarkan pada sumber energi seseorang.
Introvert
            Introvert berarti mengarahkan energi psikis ke dalam diri dengan orientasi kepada subjek (Jung dalam Feist & Feist, 2006). Mereka hidup dalam dunia dalam diri mereka sendiri bersama dengan bias, khayalan, mimpi, dan persepsi individual mereka. Mereka tentu saja menerima dan memersepsi dunia eksternal, tetapi mereka melakukannya secara selektif dan dengan pandangan subjektif mereka. Introvert ini dapat diartikan mendapatkan energi dari dalam diri.
            Seorang introvert tidak harus pendiam atau pemalu, walaupun memang faktanya di lapangan seorang introvert memang rata-rata pendiam. Namun seorang introvert pun kadangkala menjadi bawel jika berada di lingkungan teman-temannya. Ia hidup dalam pikirannya sendiri, sehingga jika ia sendirian, ia akan merasa recharged dan lelah jika berada di keramaian. Karena itulah seorang introvert disebut sebagai orang yang sumber energinya berasal dari dalam diri.
            Dalam keseharian, seorang introvert memang lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Jika pergi berbelanja, ia lebih suka berdua atau bertiga dan bersama teman yang ia kenal baik, lalu berpencar dalam memilih barang. Ia tidak terlalu suka jika temannya terlalu banyak berkomentar mengenai barang yang sedang ia pilih. Jika jalan-jalan, ia juga lebih suka untuk mencari tempat memancing, pemandangan alam yang indah, berbelanja bersama beberapa orang saja (atau sendirian), dan mencari tempat-tempat bersejarah. Bahkan, seorang introvert bisa saja menghabiskan waktu liburannya di luar kota hanya dengan tidur-tiduran.
Ekstrovert
            Ekstrovert mengarahkan energi psikis ke luar dan berorientasi kepada objek dan jauh dari subjektif (Jung dalam Feist & Feist, 2006). Mereka lebih dipengaruhi oleh sekeliling mereka daripada dunia dalam diri mereka. Sumber energi mereka dari luar diri, karena itu mereka akan merasa recharged jika berada di keramaian dan justru lelah jika sendirian. Walaupun faktanya di lapangan orang ekstrovert selalu bawel, namun bawel tidak selalu menjadi indikator seseorang adalah ekstrovert. Namun seorang ekstrovert jika berbicara akan seolah tanpa berpikir dahulu dan kencang sehingga bisa terdengar dari ujung ruangan.
            Dalam keseharian, seorang ekstrovert lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang-orang. Ia senang berbelanja ramai-ramai dan bahkan sebenarnya yang ia nikmati adalah kebersamaan itu alih-alih menikmati kegiatan belanja. Jika lelah, ia akan mencari keramaian sebagai hiburan. Seorang ekstrovert akan senang sekali bila bisa menjadi pusat perhatian. Namun, seorang ekstrovert pun memerlukan waktu juga untuk menyendiri sekali-kali.
Dari penjelasan singkat mengenai introvert dan ekstrovert itu sebenarnya sudah cukup untuk membantu kita dalam mengamati sikap seseorang. Jika kita mengenal teman kita yang berbicara kencang dan seolah tanpa dipikir, bisa kita prediksikan ia adalah seorang ekstrovert. Jika ada teman kita yang berpikir dulu sebelum memulai berbicara dan jarang berada di keramaian, bisa kita prediksikan bahwa ia adalah seorang introvert.
Aplikasi dari teori ini, kita dapat melihat potensi diri melalui kategori ekstrovert-introvert. Seorang ekstrovert tentu berpotensi dalam pekerjaan yang bersifat ’ramai’ seperti MC, selebritis, sales, dan lain-lain; sedangkan seorang introvert berpotensi dalam pekerjaan yang bersifat ’tenang’ seperti akuntan, filsuf, dan sebagainya. Meskipun demikian, seorang introvert dapat belajar untuk sukses sebagai MC dan seorang ekstrovert juga dapat belajar untuk sukses sebagai filsuf. Potensi ini hanyalah bawaan dari lahir, sedangkan manusia dapat belajar untuk mencapai harapan yang ia inginkan. Sesuai dengan sebuah lirik lagu dari belahan Asia Timur yang cukup populer: 30% takdir (potensi dari lahir), 70% usaha.
Jika ingin mengetahui anda adalah seorang ekstrovert atau introvert berdasarkan tes psikologis terstandarisasi, anda dapat menggunakan tes MBTI, dan versi online-nya dapat dilakukan di situs http://www.humanmetrics.org.
Iklan

2 responses to “Introvert-Ekstrovert

  1. thanks sob atas infonya jadi tambah ilmu lagi nii, hehee :D

  2. Ping-balik: Introvert, Energi dari Dalam Diri | Garvin Goei

Yuk, Beri Komentar dan Berdiskusi di Sini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s